WHAT DID YOU LEARN FROM YOàUR FAILURES?

 *

Minggu pagi itu, saat saya jalan-jalan tanpa sengaja, saya bertemu dengan seorang teman. Sebut saja namanya Putra, CEO di sebuah perusahaan yang cukup besar di Jakarta. 

“Mas Pam. Wah, lama kita gak ketemu mas. Ngopi yuk.”

Kami pun berjalan sedikit lagi, dan berhenti di sebuah tempat ngopi.

Setelah diskusi banyak hal, termasuk masalah ekonomi dunia, masalah sepakbola dan juga bercanda sana-sini. Saya pun bertanya kepada mas Putra.

“Mas, kalau mas Putra memilih seorang karyawan baru untuk masuk di perusahaan, apa *karakter tertentu yang mas Putra cari*?

“Selain semua proses yang dijalankan, dan semua pertanyaan interview yang biasa dijalankan, saya biasanya bertanya, sebutkan *kegagalan yang pernah kamu alami*, dan *apa yang kamu pelajari*?”

“Semua candidate ditanya itu mas?”

“Saya menanyakan itu dalam semua interview “

“Mengapa mas?”

“Karena kegagalan melambangkan banyak hal….

a) dia orang yang selalu berusaha *mengetest dirinya sendiri* dan *meningkatkan standardnya*, dengan *mendorong dirinya sendiri untuk lebih baik lagi*. Yang tak pernah gagal mungkin nyaman dan tidak mem-push dirinya lagi.

Analogi-nya seperti halnya atlet angkat besi, ada yang puas setelah angkat 70 kg dia terus menerus mengangkat 70 kg, tapi ada yang kemudian berusaha angkat 80 kg, setelah itu 90 kg dan seterusnya.

Saya memerlukan orang yang terus menerus meningkatkan standardnya sendiri, *saya tidak memerlukan mereka yang nyaman berada di zona nyaman*

b) dia *pemberani*, berani mencoba, berani gagal, berani bangkit lagi

c) dia *pembelajar*, berarti dia belajar dari kegagalannya dan meningkatkan dirinya lagi

d) dia adalah seorang *“risk-taker”*, berani mengambil resiko!

Biasanya orang-orang seperti itu yang saya butuhkan dalam pejerjaan yang makin lama makin kompleks”

**

Benar juga ya. Jangan-jangan orang yang tidak pernah gagal adalah orang-orang yang di zona nyaman, mau enaknya saja, dan tidak mau bekerja keras lagi.

Roger Federrer, seorang juara tenis, pernah menyampainan,” Kesempurnaan adalah hal yang tidak mungkin. Bahkan pemain terbaik pun hanya memenangkan sekitar 80% pertandingan mereka, yang berarti mereka sering mengalami kegagalan. Perspektif ini mendorong atlet dan individu untuk *menerima bahwa kegagalan dalah bagian dari perjalanan*, kemudian mereka *mempelajari* kekalahan tersebut untuk *memperbaiki diri*.”

**

“Kalau mas Putra? Kegagalan apa yang pernah mas Putra alami?”

Dia pun bercerita bahwa dulu, dia bekerja di Eropa, dengan gaji yang lumayan, dan tabungan yang cukup besar. Kemudian dengan beberapa temannya , mereka investasi membangun sebuah bisnis. Bisnisnya gagal total, tabungannya habis ludes. Mereka sekeluarga hidup prihatin. Kemudian dia pun melamar kerja sana sini. Setelah mencoba puluhan kali, Dia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang manager. Dia bekerja dengan keras (dan cerdas), akhirnya dia pun dipromosi berkali-kali, sampai akhirnya belasan tahun kemudian, menjadi CEO di perusahaan itu.

“Saya belajar bahwa sehebat apapun product secara teknologi, kita tetap perlu memahami pelanggan secara psikologis saat mengembangkan product, dan saat menjual ke mereka. Sekarangaya terapkan hal itu setiap hari”

**

That's the mindset of a winner. Apakah kita bermental juara? Apakah kita selalu mendorong diri kita untuk meningkatkan diri? Atau kita terus menerus berada di zona nyaman? Apa yang kita lakukan kalau gagal? Bersyukur atas kegagalan kita? Atau apakah kita menangis, meratapi nasib kita dan menyerah?

Michelangelo, pelukis pada jaman Renaissance di Eropa pernah berkata," *The danger is not when you set your goal too high and fail. The danger is when you set your goal too low and you achieve it*". Set your objective very high. And then become obsessed with your objective. Work hard and smart for it.

**

Bedanya para juara dan yang lain bukannya para juara selalu sukses dan yang lain pernah gagal. Mereka semua (termasuk para juara) pernah gagal.  Mungkin gagal di latihan atau gagal di pertandingan yang sesungguhnya. Perbedaannya hanya satu: Para juara (The winners) itu kalau gagal akan BANGKIT kembali dan mencoba lagi sampai akhirnya berhasil. Sementara yang lain (The losers) kalau gagal akan berhenti, berputus asa dan menyerah. Which one are you? The winners or the losers?By deciding if you will fight again or by giving up when you fail. Dan ternyata ini juga berlaku dalam berbagai aspek kehidupan . Olahraga, sekolah, karier, bisnis, sales, belajar sesuatu yang baru...etc.

**

Saya sendiri berkali-kali gagal. Di awal karier saya, Berapa kali saya ditolak oleh perusahaan pada saat saya melamar ke sana-sini. Tahun 1993 saya pernah gagal diterima di sebuah perusahaan, tahun 2013 mereka meminta saya menjadi Direktur di perusahaan tersebut. Ternyata yang di terima saat pada tahun 1993, belum menjadi Direktur 😊. Pada saat saya di menjadi consultant, berapa kali saya gagal menjual project saya ke calon customer saya. I was gratefull with all my failures. Kemudian saya belajar dan memperbaiki diri. Saya sangat mensyukuri kegagalan saya itu. Saya belajar dari situ. They made me much stronger. To win, you dont have to succeed with every effort you make.

You just need to train yourself to take the pain that comes as result of failures, rejection or underperformance and keep success in your sight. The faster you get up and move on, the better it will be. And you will gain the unique and invaluable talents and resources needed to keep winning and winning over the long journey for success.

**

Jadi, apa yang harus kita lakukan pada saat gagal?

1) *Terimalah bahwa kegagalan itu biasa terjadi* dan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan

**

2) Terus menerus *visualisasikan goal kita*.

Stay excited and motivated to achive your goal. Focus. Dont get distracted.

**

3) *Push through pain*.

Tahan rasa sakit dan kekecewaan dari kegagalan itu. Bersiap siaplah bahwa kegagalan berikutnya akan datang lagi. Jangan berpikir bahwa kegagalan ini adalah kegagalan terakhir. There will be more...

Just move on and focus on your goal. 

**

4) *Learn from your failures*.

Pelajari dari kegagalan itu. Apa yang kita bisa lakukan dengan cara yang berbeda. Look with different perspective, look from different angle, change the way you do things ....

Diskusilah dengan diri anda sendiri secara Terbuka: Mendiskusikan kegagalan dapat membangun kepercayaan dan menumbuhkan kreativitas serta ketahanan.

Atasi Hambatan: Identifikasi dan atasi hambatan emosional dan fisik yang mencegah pembelajaran dari kegagalan.

Tetapkan Tujuan SMART: Ubah pelajaran yang dipetik menjadi tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terbatasi waktu.

**

5) *And Keep trying*, keep walking, keep running, keep fighting, keep learning, keep training, keep working, keep smilling, keep laughing, keep singing, ignore others, until you achieve your goal.

Teruslah mencoba, teruslah berlari, teruslah berjalan, teruslah berjuang, teruslah berlatih, teruslah belajar, teruslah bekerja, teruslah tersenyum, teruslah tertawa, teruslah menyanyi, jangan hiraukan yang lain . Generate alternatives, coba berbagai cara...sampai kita mencapai tujuan kita.

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


HR 2026: Antara Disrupsi Digital, Society 5.0, dan Tuntutan Bisnis yang “Nggak Nunggu Siap”

Tahun 2026 bukan tahun ramalan.

Ia sedang lari ke arah kita sambil membawa AI, tekanan bisnis, ekspektasi karyawan, dan KPI yang makin “nggak manusiawi”.


Tapi Kalau HR masih sibuk nanya,.“HR mau jadi apa ke depan?”


Jawabannya bisa jadi sudah terlambat.

Karena bisnis tidak menunggu HR siap...bisnis menuntut HR relevan.


*1. Tantangan HR 2026: Dunia Berubah, HR Tak Boleh Baper*


Klo kita mw jujur.

Tantangan HR 2026 itu bukan cuma soal AI, digitalisasi, atau Gen Z yang katanya “baperan”.


Isu strategisnya jauh lebih kompleks, menurut saya (bisa jadi berbeda dg para omtans sekalian) :


- Tekanan efisiensi & profitabilitas bisnis.

- Disrupsi teknologi (AI, automation, data analytics).

- Perubahan nilai kerja: makna, fleksibilitas, wellbeing.

- Talent shortage di satu sisi, oversupply di sisi lain

- Tuntutan ESG, sustainability, dan organisasi yang berpusat pada manusia


Om Dave Ulrich, udah lama ngingetin:


_“HR is not about HR activities. HR is about delivering value to stakeholders.”_


Artinya jelas:

*Bahwa HR tuh ga diukur dari seberapa rapi SOP nya, tapi dari seberapa besar dampaknya ke bisnis dan manusia.*



*2. Society 5.0: Ketika Teknologi Harus Kembali ke Manusia*


Era Society 5.0 negesin satu hal penting:

teknologi bukan tujuan, tapi alat. AI boleh canggih, dashboard boleh kinclong, HRIS boleh mahal.

Tapi kalau karyawan kehilangan makna/tujuan kerja, trust, dan rasa memiliki...

organisasi tetap letoy.


jadi, HR 2026 harus mampu menjawab rada² ini:


- High-tech dan high-touch

- Data-driven dan values-driven

- Agile tanpa kehilangan keadilan & etika


Di sinilah HR diuji:

bukan sekadar operator sistem, tapi penjaga kemanusiaan organisasi.


*3. HR 2026: Dari Support Function ke Strategic Partner (Bukan Sekadar Judul di Kartu Nama)*


HR strategis itu bukan slogan LinkedIn.

Ia harus terasa nyata dalam peran berikut:


*Business Translator*

Memahami arah usaha dan menerjemahkannya ke strategi SDM


*Architect of Capability*

Mampu membangun skill yang dibutuhkan masa depan.


*Guardian of Culture & Trust*

Dapat menjaga budaya tetap hidup, bukan sekadar jargon


*Change Navigator*

Mendampingi manusia di tengah perubahan permanen


*Moral & Ethical Compass*

Memastikan bisnis tetap berkeadilan


HR tidak lagi cukup “ikut strategi”. HR harus ikut menentukan arah.


*Lalu, Apa yang Harus Dilakukan HR Menuju 2026?* 

*Dan Bagaimana Melakukannya dengan Benar?*


Bicara tantangan tanpa langkah nyata itu seperti rapat panjang tanpa notulen.

Kelihatan sibuk, tapi pulangnya bingung mau mulai dari mana.


Berikut peta jalan praktis HR 2026 yang membumi, aplikatif, dan relevan dengan realitas bisnis.


*1. Naik Kelas: Dari Administrator ke Business Thinker*


*Apa yang harus dilakukan:*


- HR wajib memahami strategi bisnis, model revenue, struktur biaya, dan risiko usaha


- HR tidak cukup paham regulasi, tapi juga logika bisnis


*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Aktif di forum bisnis, bukan hanya forum HR.

- Biasakan membaca laporan keuangan dasar.

- Terjemahkan target bisnis menjadi implikasi SDM.


_“HR must know the business as well as the people.”_ .(Dave Ulrich)



Kalau HR tidak paham bisnis, jangan heran kalau HR hanya dipanggil saat “ada masalah orang”.


*2. Bangun Kapabilitas, Bukan Sekadar Program Training*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Fokus pada _capability building_, bukan daftar pelatihan tahunan

- Tentukan skill kritikal 2–3 tahun ke depan



*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Mulai dari pertanyaan: “Skill apa yang membuat bisnis kita unggul?”


- Kombinasikan learning on the job, coaching, mentoring, dan proyek lintas fungsi


- Ukur training dari dampak ke kinerja, bukan jumlah peserta


- Training tanpa dampak bisnis itu bukan investasi, tapi biaya.


*3. Gunakan Teknologi Secara Cerdas, Bukan Sporadis*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Manfaatkan teknologi & AI untuk efisiensi dan kualitas keputusan.


- Gunakan data untuk membaca tren, risiko, dan potensi SDM


*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Mulai dari problem, bukan dari tools.

- Pastikan teknologi memudahkan kerja manusia.

- Tingkatkan literasi data praktisi HR


Society 5.0 bukan tentang mesin makin pintar,

tapi manusia makin bijak menggunakan mesin.


*4. Jadikan Budaya & Trust sebagai Aset Strategis*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Bangun budaya kerja yang adil, sehat, dan produktif


- Perkuat trust antara manajemen dan karyawan



*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Pastikan pimpinan memberi teladan, bukan sekadar pidato


- Tegakkan kebijakan secara konsisten


- Dengarkan suara karyawan secara sistematis


Budaya tidak dibangun lewat poster, tapi lewat keputusan sehari-hari.



*5. Siapkan Manusia untuk Perubahan yang Tak Pernah Berhenti*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Tingkatkan resilience dan agility organisasi


- Bekali pimpinan menjadi change leader, bukan change blocker


*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Perkuat komunikasi perubahan.

- Dampingi karyawan menghadapi ketidakpastian.

- Seimbangkan target kinerja dan kesehatan mental


Organisasi boleh agresif, tapi manusianya jangan dikorbankan.



*6. HR sebagai Penjaga Nilai, Etika, dan Keadilan*


*Apa yang harus dilakukan:*


- HR menjadi penyeimbang kepentingan bisnis dan kemanusiaan


- Menjaga martabat manusia dalam setiap kebijakan



*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Gunakan data dan argumentasi profesional


- Berani menyampaikan risiko etis keputusan bisnis


- Teguh pada prinsip, tanpa kehilangan kebijaksanaan


HR yang diam saat nilai dilanggar, sedang menabung konflik jangka panjang.



*HR 2026 Bukan Soal Hebat, Tapi Relevan & Bermakna*


HR ke depan tidak dituntut menjadi paling pintar, tetapi paling berdampak.


Bukan yang paling banyak bicara, tetapi paling bertanggung jawab.


Dan bukan hanya menyelaraskan manusia dengan bisnis,

tetapi memastikan bisnis tetap manusiawi, adil, dan berkelanjutan.


semoga bermanfaat...🙏


coretan HR ala coaCHA

_Humanizing HR, Inspiring People_



Jadi,

HR hari ini lebih sibuk mengurus sistem...atau benar-benar jagain orang agar bisnis tetap jalan?

Apa tantangan nyatanya?


HOW FULL is YOUR GLASS? (Seberapa penuhnya gelas anda?)

Pada sebuah perjalanan dinas, saya duduk bersebelahan dengan seorang CEO sebuah perusahaan ternama di Indonesia.

Setelah berkenalan, dan berbasa basi, akhirnya pun kami mendiskusikan beberapa hal serius termasuk bisnis, leadership, HR …dll.

Menariknya beliau ternyata juga pernah menjadi HR Director, selain pernah menjadi CEO di 3 perusahaan yang berbeda. 

“Iya, di tempat saya dulu, saya harus di rotasi, dan HR adalah salah satu hal yang harus saya lakukan sebelum saya menjadi CEO.”

Perjalanan kami jadi menari, dengan diskusi di mana saya belajar banyak dari beliau.

Setelah mendarat, beliau menyempatkan berkata“Thank you. I learn a lot from you.”

Dan saya pun kaget. Bukannya dia yang ngajari saya. Lalu saya tanya,”You are the one who teach me, right?”

Dan dia menjawab,”Tapi kan pak Pam juga banyak nanya, Pak Pam juga banyak share tentang pengalaman bapak. Dan saya juga belajar banyak dari situ. That’s how you teach me!”

Wow! Saya kagum banget.

Sementara banyak di antara kita yang merasa sok tahu dan sok ngajarin orang lain. Ini seorang sosok yang pernah menjadi CEO 3 perusahaan ternama, dan bilang bahwa dia belajar dari saya, dalam perjalanan di pesawat Garuda.,

**

Tetapi apakah semakin banyak kita bertemu orang, kita pasti akan semakin pintar? Ternyata tidak tuh. Kita hanya bisa belajar dari orang lain, kalau kita memang membuka pikiran kita (being open mind). Tidak menganggap diri kita yang paling pintar. Kalau kita menganggap, bahwa (sehebat apapun diri kita), masih saja ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang lain.

Di dalam buku novel samurai Jepang “Musashi” yang saya baca waktu kecil, “Selama gelasmu penuh, kamu tidak akan bisa mengisi air lagi”

Artinya semakin kamu merasa bahwa pengetahuanmu sudah cukup (atau sudah banyak), maka  kita gak akan belajar lagi dari orang lain.

Karena ingat di atas langit masih ada langit.

Kalau anda pintar, pasti ada orang lain yang lebih pintar!

Apalagi sekarang, jaman berganti lebih cepat, pengetahuan anda akan menjadi tidak relevant di masa depan, atau malah digantikan oleh computer!

Be open mind, always learn from others.

**

Jadi apa yang bis akita lakukan?

a) MINDSET for GROWTH

Selalu berfokuslah pada masa depan, selalu berfokus pada bagaimana anda mengembangkan diri anda agar ilmu anda bertambah, kontribusi anda bertambah, tanggung jawab anda bertambah dan tentu saja penghasilan anda akan bertambah.

Jangan happy dengan ilmu anda sekarang, jangan happy dengan kontribusi anda sekarang, belajarlah dan tingkatkan ilmu dan performance anda!

**

b) EMBRACE CHALLENGES

Dalam kehidupan dan dalam bisnis kita, setiap hari kita menghadapi challenges, kadang ringan , kadang berat. Jangan menyesal, jangan bersedih. Challenge itu yang akan membuat kita naik kelas. Go for it.

Embrace the challenges! Challenge yang semakin berat akan membuat anda semakin banyak belajar dan mempersiapkan anda untuk masa depan yang semakin tidak pasti.

**

c) LEARNING MANIAC

Belajar! Belajar! Belajar!

Saya pernah bekerja di 4 perusahaan di Indonesia, dan semua CEO nya maniac belajar.

Bukan hanya suka belajar, maniac! Artinya kalau sehari aja mer ka tidak membaca buku, mereka merasa ada yang gak enak dan belum lengkap! Jadi biasanya mereka memegang buku di waktu luang, dan saya memperhatikan selalu ada buku di ruang kerja, di mobilnya dan (saya yakin pasti ada juga) di ruang tidur mereka! Sudah jadi CEO masih belajar! Kita udah CEO belom? Belom kan? Nah, mari kita belajar!!!

**

d) OPEN MIND

Orang pinter merasa bodoh dan menerima ide dan pendapat orang lain, mau belajar dari orang lain. Orang bodoh merasa paling pinter, dan gak mau mendengarkan orang lain. That’s the difference!

Which one are you? Be open mind! Terbukalah pada ide dan pendapat orang lain.

**

e) DRIVE for SUCCESS

Strategy and vision are useless without execution discipline! Jadi bermimpilah, bercita-citalah, terobsesilah dan terutama bekerja keraslah untuk mencapainya!

**

f)  YAWN with ROUTINE

Lakukan hal yang berbeda setiap hari. Bahkan untuk memecahkan masalah yang sama , coba gunakan cara yang berbeda. Orang orang yang open mind akan  bosan dengan rutinitas.

Mereka selalu belajar hal baru, ingin melakukan hal baru, ingin mencoba metode baru!

**

Saya mengingatnya menjadi MELODY:

a) MINDSET for GROWTH

b) EMBRACE CHALLENGES

c) LEARNING MANIAC

d) OPEN MIND

e) DRIVE for SUCCESS

f)  YAWN with ROUTINE

Jadi ingat, to keep your relevancy, sing your MELODY!

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


HE WHO ANGERS YOU, CONQUERS YOU

Puspita, teman saya, sebenarnya adalah seorang leader yang sangat sukses. Pada usia relative muda, dia menjadi Direktor Pengembangan Bisnis, di sebuah perusahaan besar di Indonesia (yang pendapatannya perusahaan tahunan puluhan trilyun).

Hari itu Puspita (bukan nama sebenarnya), ngajak ketemuan buat curhat.

“Mau makan apa Pit?”

“Aku lagi mau makan padang mas. Mas mau ke Marco di Pacific Place gak?”

Tadinya aku mau diet, but you don’t say no, to a woman like Puspita.

“Baiklah, anything you like, lets go…”

**

Setelah berbasa-basi, Puspita pun mulai bercerita.

“I don’t know why. Kadang-kadang sulit sekali mengontrol emosiku mas. Aku bisa bersikap menjadi ibu yang baik, leader yang care sama anak buahku, listener yang baik bagi bossku, dan teamworker yang baik bagi kolega atau peer ku. Tapi ada Director lain, yang aku gak bisa tahan. Dia selalu bisa memancing kemarahanku”

“Apa yang dia lakukan?”

“Sudut perspective nya selalu beda. Aku ngerti, dia ngomong financial, aku ngomong business development, yang belum tentu menghasilkan uang. Dia ngomong tangible result: revenue, growth, ROI, aku ngomong intangible: customer loyalty, brand awareness , company identity …etc”

“Bukankah bagus, kalau ada perbedaan persepsi?”

“Iya, tapi gaya ngomongnya itu lah, menyerang orangnya, bukan idenya. Agresif., Dia bilang karena dia lulusan amerika, dia selalu straightforward., Kan gak semua lulusan amerika begitu? Songong amat sih”

“Terus bagaimana reaksimu?”

“Kadang aku OK, kadang aku kehilangan control emosiku, dan ikut agresif.”

“Bukankah dalam coaching session yang lalu, kita agree bahwa Puspita harus selalu mengontrol emosi?”

“Iya mas, tapi aku manusia kan? Manusia ada batasnya juga…”

“And didn’t we agree that manusia juga harus meningkatkan self-controlnya setiap hari?”

“I hate you when you are right, mas! Then just tell me what to do?”

**

Kejadian yang menimpa Puspita, pasti pernah kita alami. Ada seseorang di kantor, peer, kolega, boss, kadang anak buah, yang punya kepribadian “aneh” (menurut kita). Dan membuat kita kesal, sebel, bahkan marah, sampai kadang kita menjadi agresif. TOXIC! Capek menghadapi orang seperti itu.

Tapi dunia ini akan terlalu indah kalau semua orang menjadi baik. Believe me, it would be boring and we will not learn  much! Masalahnya, harus kah kita ikut marah?

Elizabeth Kenny, seorang praktisi medis, yang terkenal dari Australia, pernah berkata,” HE WHO ANGERS YOU, CONQUERS YOU”, Siapa yang bisa membuatmu marah, berarti dia sudah mengalahkanmu!

Jangan menyerah, jangan sampai kalah sama dia! Kita harus tetap mengontrol emosi kita. Kadang memang sulit, tapi ingat kita harus in full control of our emotions.

George Bernard Shaw mengingatkan, “never wrestle with a pig. You get dirty, and besides, the pig likes it.  Jangan pernah bergulat dengan babi. Kalian  akan kotor, dan babi memang suka yang kotor.”

Kalimat di atas adalah pepatah metaforis yang menunjukkan bahwa terlibat dalam konflik dengan individu yang tidak bereputasi baik adalah sia-sia dan mengarah pada negativitas timbal balik. Pepatah ini menekankan bahwa orang yang Anda lawan akan diuntungkan dari kekacauan dan drama, sementara Anda akhirnya terlihat buruk. Kalimat itu berfungsi sebagai pengingat untuk menghindari berinteraksi dengan individu yang toxic, karena sering kali menyebabkan frustrasi dan ketidakpuasan. Secara keseluruhan, pepatah ini merangkum gagasan bahwa terkadang tindakan terbaik adalah menjauhkan diri dari individu-individu tersebut.

**

Terus apa yang perlu kita lakukan dalam situasi seperti itu?

a) Kontrol emosi, 

b) Enjoy the situation as learning opportunity

c) You have to accept the difference

d) Something positive: Temukan sesuatu yang positif terkait orang tersebut

**

a) Kontrol emosi

Ingat, selalu control emosi. Belajarlah di rumah, belajarlah di kantor. Jangan turuti emosi negative anda. Menghela nafas. Berdo’a. Atau apapun. Ingat, kalau anda kehilangan control, akan menyesal nanti. Jangan menyerah. Jangan kalah. Kalau ada seseorang yang berhasil membuat anda marah, berarti dia membuat anda kalah!

 **

b) Enjoy the situation as learning opportunity

Anggal saja ini Latihan. Anggap saja ini adalah belajar untuk menjadi orang yang lebih dewasa, dan lebih mampu mengontrol emosinya. Kalau anda punya boss yang suka marah-marah meledak, anda juga gak suka kan? Kalau anda jadi boss, dan anda yang marah marah, credibility anda akan turun juga kan? Jangan sampai menyesal. Berarti saat hal ini terjadi, santai, control emosi, anggap aja berhadapan dengan anak kecil yang lagi marah-marah. Anda tetap hormat, dan menjawab dengan sopan, sambil terus mengontrol. Semakin lama, anda melatih hal ini, lama-lama semakin mudah dan akan terbiasa.

**

c) You have to accept and embrace the difference

Orang kan memang beda-beda. Ada yang berfikirnya selalu hitam putih, benar salah. Ada yang mikirnya dengan banyak ambiguity. Ada yang suka berbicara dengan angka dan data, ada suka kata-kata yang menggugah hati. Ada yang suka menghasilkan ide ide baru. Ada yang suka langsung action and implement. Perbedaan itu adalah sesuatu yang sangat positif bagi organisasi. Jangan dibuat jadi pertentangan. Mindset kita harus diubah menjadi,”Karena idenya dia beda dengan ide saya, ini akan saling melengkapi agar implementasinya lebih baik lagi”

**  

d) Something positive: Temukan sesuatu yang positif terkait orang tersebut

“Puspita, orang yang kamu sebut tadi juga Director kan?”

“Iya Mas”

“Nah berarti, pasti dia punya quality dan personality positive, selain hal yang aneh tadi. Kalau enggak, kan gak mungkin dia jadi Director! Focus pada yang positif. Justru kami harus belajar dari dia, khusus pada hal hal positif itu. Nanti akan membuat kamu jadi jauh lebih baik lagi, dari kamu yang sekarang”

“Logis Mas, Make sense mas. Thank You, and let me pay the bill for this dinner ya?”

Mari kita melakukan hal yang sama. Menemukan hal positif dari lawan bicara kita, dan belajar dari dia.

**

Jadi inilah kunci-kunci anda untuk menghadapi orang yang toxic, the *KEYS*:

a) *Kontrol emosi*

b) *Enjoy the situation as learning opportunity*

c) *You have to accept the difference*

d) *Something positive*: Temukan sesuatu yang positif terkait orang tersebut dan pelajari

**

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto


KILL THE BOREDOM, BUILD YOUR FREEDOM


Namanya Lilian, seorang teman saya yang sekarang tinggal di Singapore bersama keluarganya.

Pagi itu, saya sempat bertelpon dan saling menyapa, setelah lama tak berjumpa.

Setelah lulus SMA di Bandung, Lilian mendapatkan beasiswa ke Perancis. Sebenarnya rombongan mahasiswa ke Perancis, waktu itu berjumlah sekitar 40-an. Mereka dibagi ke beberapa kota. Biasanya satu group sekitar 6-8 orang, kemudian mereka dikirimkan ke universitas di kota-kota yang berbeda. Ada yang ke Nantes, Nancy, Paris, Lille, Toulouse dan Rouen.

Nah, anehnya Lilian ini (bukan nama sebenarnya), dikirimkan seorang diri , pergi ke sebuah universitas di kota Marseille, di selatan Perancis.

Terbayang kan? Seorang gadis muda , berumur 17 tahun, dari Bandung, belum pernah ke luar negeri, dan tiba-tiba harus tinggal dan kuliah sendirian (selama 5 tahun) di Marseille, tanpa mengenal siapapun.

**

“Terus kamu ngapain aja, Lilian?”

“Ya aku bergaul sama temen-temen kuliah?”

“Ada orang Indonesia? Atau Asia?”

“Boro-boro! Adanya mahasiswi dari Senegal dan Ivory Coast, kami tinggal di asrama Wanita. Mau gak mau aku harus menyesuaikan diri. Aku makan makanan afrika. Bergaul sama orang afrika. Setelah beberapa tahun, aku mulai akrab bergaul juga dengan mahasiswa Perancis.”

Saya membayangkan, bahwa dia pasti kesepian dan menderita.

“Kamu gak menderita dan kesepian seorang diri?” 

“Seharusnya begitu ya? Tapi aku ini bukan lahir dari keluarga priviledged. Jadi bisa dapat beasiswa (full, tuition dan living cost), di Perancis, aku sudah bersyukur banget. Tiap hari aku mensyukuri betapa beruntungnya aku. Betapa berbahagianya aku. Sementara ada temen-temenku yang gak bisa kuliah. Atau bisa kuliah tapi dengan mereportkan orangtuanya. I don’t want that.

Jadi *rasa syukur itu menjadi energi setiap hari bagiku*”

**

Wow, saya langsung mencatat, *the feeling of gratefull is a source of energy,everyday.*

Did we do it?

Banyak dari kita yang setiap hari stress, beban pekerjaan berat, banyak masalah, kadang boss sangat demanding, kadang anak buah kita rewel, kadang ada masalah keluarga. Kadang kita bersedih.

How do you get your energy? Pernahkah kita menggunakan rasa syukur untuk menjadi sumber energi kita setiap hari? Kesedihan adalah sebuah proses kehidupan. Berharap untuk hidup tanpa sedih itu seperti berharap bahwa dunia ini hanya ada siang, gak ada malamnya, mustajab ... eh mustahil!

Apakah saya pernah sedih? Off course. Some of you may see me smilling, laughing, making jokes, conducting fun speech or training, doing magic , entertaining ...etc. But I am only a human being. Sometimes I cry (ask my wife), sometimes I am angry (ask my children) and sometimes I am stressfull too (ask my team). And to all of them I said,”I am sorry, I am only a human being!”

Jadi jangan malu kalau bersedih, jangan malu kalau menangis, jangan malu kalau stress, karena kita semua adalah manusia biasa! Tentu saja jangan sedih berkepanjangan, nanti anda tidak semangat lagi untuk hidup. Jangan menangis berkepanjangan , nanti mata anda bengkak (nobody look pretty kalau matanya bengkak).

Dan jangan stress berkepanjangan, anda harus segera bangun lagi dan menjemput opprtunity berikutnya. How to do it? Dengan bersyukur, seperti Lilian, membunuh kebosanannya (tinggal sendirian selama lima tahun di Marseille) dan membangun kebebasannya (sampai akhirnya lulus cemerlang setelah lima tahun, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan bagus dengan gaji yang tinggi).

*Kill your boredom, build your freedom.*

**

Apa yang kita bisa lakukan

a) *Tuliskan 10 blessing anda*

Kemudian anda ambil satu lembar kertas lain. Dan anda tuliskan 10 blessing yang anda punya, 10 hal yang anda harus syukuri dalam hidup ini.

- Saya masih sehat. - Saya masih bisa makan dengan nikmat. - Saya mempunya tubuh dengan anggota badan yang lengkap tanpa cacat. - Saya masih mempunyai keluarga yang sangat menyayangi saya ....- Saya masih mempunyai pekerjaan - Saya masih mempunyai gaji setiap bulan. etc ...etc ...

Tuliskan semuanya.  Karena terkadang kita lupa bahwa hidup kita penuh blessing. Padahal semuanya tergantung cara kita memandang hidup. Zidenine Zidane (juara dunia sepakbola) pernah  berkata,”Waktu saya kecil dan miskin, saya bersedih karena saya tidak punya sepatu untuk sepakbola. Kemudian saya melihat sesorang yang tidak mempunyai kaki”

Lihat betapa dia tadinya bersedih, dan hanya karena dia mengubah paradigma (caranya memandang kehidupan), dia langsung menghapus kesedihannya. *IT IS IN YOUR MIND!(

**

b) *Bersyukurlah bahwa masih lebih banyak blessing anda dibandingkan dengan kesedihan anda*

Nah, sekarang anda menghitung. Anda punya 10  blessing. Anda punya satu kesedihan. Berapa skor kebahagiaan anda? 9 ? Sembilan! This is a very good score! Kalau anda dulu di sekolah dapet nilai 9 (maximumnya 10 ya), anda senang atau enggak? Pasti senang! Kalaupun masalah atau kesedihan anda ada 3, score kita masih 7. You should be happy about it.

Lagian anda sedang menjalani kehidupan. Siapa yang mengontrol kehidupan anda? Yang Maha Kuasa kan? Apakah anda berani memaksa-Nya untuk selalu memberikan angka 10 (perfect happiness!). Dont be greedy! Ingat saat Zinedine Zidane tidak punya sepatu dan melihat orang yang tidak punya kaki? Bersyukurlah!

**

c) *Do something NEW, distract yourself, missdirect yourself*

Ok, setelah anda bersyukur, sekarang lakukan sesuatu yang baru, untuk mengalihkan perhatian anda, untuk menggantikan fokus pikiran anda dengan yang lain, untuk melupakan masa lalu dengan hal lain yang lebih positive!

Usaha anda bangkrut? Coba belajar hidrophonic!

Coba belajar menulis buku (“10 jebakan yang harus anda hidari pada saat anda merintis usaha anda”)!

Coba memulai olahraga baru!Coba memulai hobby baru! 

Anda di-PHK? Dengan pesangonnya kenapa anda tidak kuliah lagi, MBA atau Master of Finance! Coba keliling Indonesia dan mencari business opportunity baru! Whatever that will make you fresh in the morning and want to do something new!

**

d) *Get up, let go the past, move on with your life!*

Ok, sekarang semangat anda sudah naik, keep it up. 

Your life will not improve by crying about your past. Your life will improe because you continuously have fun with today and build your fondation for your future .

Hidup anda tidak akan menjadi lebih baik karena anda menangisi masa lalu.

Hidup anda akan menjadi lebih baik karena anda terus menerus menikmati hari ini dan menyiapkan fondasi yang kuat untuk masa depan anda! But seriously it means you need to forget the past, enjoy the present and continuously prepare for the future.

Ibaratnya hidup anda adalah naik bus (TransJakarta), setiap kali bus anda berhenti di sebuah halte, tinggalkan beban (dan kesedihan) masa lalu anda di halte itu, dan berangkatlah tanpa beban apapun melaniutkan perjalanan anda menuju halte-halte berikutnya.

Jadi ingat ya, untuk menghapus kesedihan anda, jangan lupa menghitung blessing anda.

Dan ingat , kill your boredom, build your freedom, dengan menggunakan rasa syukur sebagai sumber energi anda, setiap hari!

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


THINK CREATIVELY, ENGAGE EVERYBODY, WORK COLLABORATIVELY

Beberapa orang bertanya ke saya,”Bagaimana menerapkan kreatifitas di dunia kerja? Bukankah mereka yang high-achiever memang consistent dan biasanya agak boring. Dan yang terlalu creative, biasanya kurang consistent dan tidak perform?”

Minggu lalu saya bertemu dengan seseorang yang membuktikan kebalikan dari anggapan itu.

Malam itu, saya dinner dengan Jessika (bukan nama sebenarnya), seorang teman yang menjadi Marketing Director di sebuah perusahaan FMCG (Fast Moving Consumer Goods). 

Jessika baru saja mendapatkan award sebagai the best Marketing Director di seluruh Asia Pacific di perusahaan di mana dia bekerja.

Sebelum ketemu, saya sempat baca-baca tentang achievementnya.

Memang prestasinya keren, Brand-brand yang dia launch selalu menarik perhatian masyarakat dan media, bahkan beberapa bulan kemudian kelihatan bahwa market share nya pun meningkat pesat.

Hari itu saya ingin berdiskusi , bagaimana cara dia mencapai itu semua.

**

Jam 18.30 tepat, saya sudah sampai di The Bridge, sebuah restaurant di daerah SCBD.

Jessika sudah menunggu dengan gaun hitamnya yang anggun.

“You look great , Jessika,” sapa saya.

“You too pak, you look happy and healthy.”

Malam itu kami memesan Dry Aged Steak dan Garlic Prawn with spaghetti. 

Sambil menunggu makanan kami datang, kami pun berdiskusi dan saya mulai bertanya-tanya.

“How did you make it happen? Bagaimana semua achievement itu bisa dicapai? Keren banget…”

“It’s a teamwork pak, I have a great team, who made it happen”

“Setuju, tapi pasti Jessika adalah a great team leader yang mampu memimpin teamnya untuk mencapai itu semua kan?”

“I agree with that. If there is one thing that I continuously learn everyday, is how to become a great leader. Marketing itu gampang pak. Bagaimana menjadi marketing leader yang baik? Itu yang susah!:

**

Makanan kami mulai datang. Malam itu lidah kami dimanjakan oleh makanan yang sangat lezat.

“Terus apa yang Jessika lakukan agar team bisa bekerja keras dan bekerja sama dengan baik?”

“Kami bekerja sebagai team kok. Sekumpulan marketers, mempunyai ide yang sama, berkumpul dan melahirkan ide ini kemudian di realisasikan bersama-sama”

Wow, this is teamwork. Semua team member saling commitment, dan bekerja keras bersama-sama , pasti akan berjalan dengan baik.

Kemudian saya bertanya lagi,”Jadi ide nya pada awalnya datang dari siapa?”

Jessika menjelaskan,”Ya iya, tapi kan program-program marketing itu berjalan se-sukses itu kalau hanya berasal dari ide satu orang. Jadi kami brainstorming bersama, kami juga menyampaikan ide kami untuk mendapatkan dukungan dari BOD kami, Dan kemudian program  itu jadi berjalan dengan dukungan semua pihak di semua divisi”

Jessika really understand it. Engage everybody! 

Banyak orang bilang mereka punya ide bagus. Remember, idea is cheap. Implementation is expensive. Dan untuk mendapatkan implementasi yang bagus, mau gak mau kita harus engage everybody.

Dan itulah mengapa akhirnya program-program marketing teamnya Jessika menjadi berhasil dan sesuatu yang sangat phenomenal. 

**

Saya masih berdiskusi dengan Jessika beberapa lama, di mana dia menceritakan beberapa hal yang dijalankan teamnya.

Saya akan meringkas TEAMWORK proses itu dalam empat langkah. 

Dan saya yakin semua team, semua perusahaan, semua organisasi bisa mempelajari dan menerapkan hal ini.

Kita bahas satu persatu ya …

**

a) *START WITH WHY*

Pertama, objective nya harus jelas. Apa yang ingin dicapai. Mengapa hal itu harus dicapai. Semua orang harus mengerti.

Dengan kejelasan itu semua orang bekerja keras tanpa pamrih untuk mencapainya.

Sebuah perusahaan air mineral ingin menjual air sehat dan melestarikan  lingkungan alam di sekitarnya.

Sebuah perusahaan transportasi ingin melayani pelanggannya dan menyejahterakan puluhan ribu pengemudinya.

Apa objective organisasi anda? Mengapa seluruh oganisasi harus mencapainya? Is it clear for everybody. Hal ini yang pertama kali harus dipastikan, clarity of objective. That’s why you have to ‘START WITH WHY”

**

b) *THINK CREATIVELY*

Pikirkanlah sebuah ide dengan creative. Cari cara baru yang belum dilakukan orang. Bikin terobosan baru. Tampilkan metode baru.

Dunia berubah begitu cepat. Apapun yang menjadi andalan anda di masa lalu, akan obsolete (tidak relevant) sebentar lagi. Berpikirlah, bersiaplah, carilah ide baru dengan kreative.

What is your new idea? Bagaimana anda akan mengimplementasikannya. Bagaimana anda akan menhadapi semua hambatan dan semua permasalahan yang akan muncul di depan?

Think Creatively, Innovatively!

**

c) *ENGAGE EVERYBODY*

Idea is great. Tapi ide saja tidak akan mengasilkan apa-apa. Achievement is 1% inspiration and 99% perspiration! Jadi kalau punya ide, gak usah sombong dulu!

Masih perlu 99% kerja keras. Dan berarti kerja keras itu hanya bisa terlaksana kalau kita mengajak semua orang. Tanpa ajakan itu, tanpa engage everybody, bisa-bisa semua orang hanya melihat ke anda dan bilang ….”Ya sana, itu ide-ide lu sendiri, kerjain aja sendiri!”. This is the importance of engage everybody! verybody. Dan ternyata itu kunci kesuksesan sebuah implementasi.

**

d) *WORK COLLABORATIVELY*

Implementasi pasti berjalan Panjang, dengan segala permasalahan yang timbul, motivasi akan naik dan turun … Hal ini hanya akan berjalan kalau sebuah team benar-benar bisa ber-kolaborasi dengan baik.

Apa artinya kolaborasi. Kolaborasi berasal dari dua kata bahasa latin KO (co, yang asalnya dari collectively, bersama-sama), kemudian ada kata LABOR (yang artinya bekerja, bekerja keras, keringetan). Jadi work collaboratively berarti semuanya harus keringetan, kerja keras sama-sama. Jangan ada satu orang yang Cuma tunjuk-tunjuk dan perintah-perintah, sementara yang lain harus keringetan. Kata CO dalam collaborate, juga berarti sama, artinya semua orang levelnya sama. Gak ada yang petantang petenteng, merasa lebih dari yang lain. Everybody is at the same level, same team members, dan same hard work, meskipun tugas dan tanggungjawabnya berbeda.

That’s the key. Semua orang bekerja keras secara cerdas!

**

Jadi ingat ya, di manapun anda perlu menjalankan sebuah program atau project, agar sebuah objective dicapai bersama-sama, coba kita terapkan empat hal ini:

• *START WITH WHY*

• *THINK CREATIVELY*

• *ENGAGE EVERYBODY*

• *WORK COLLABORATIVELY*

**

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto


DO THEY LIKE SPENDING TIME WITH YOU?

 

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti sebuah sharing session dari seorang konsultan internasional. Dia sharing tentang sebuah survei di mana mereka menanyakan kepada para eksekutif di seluruh dunia. 

Pertanyaannya hanya ada 2.

a) Sebutkan 3 orang yang Anda suka banget menghabiskan waktu bersama dengan mereka

b) Sebutkan 3 orang yang Anda paling benci menghabiskan waktu bersama dengan mereka?

**

Coba dong, ambil selembar kertas dan pulpen dan tuliskan jawaban Anda. OK. Mari kita cocokkan jawaban Anda dengan jawaban yang paling populer di dunia. Berdasarkan survei tersebut, orang yang paling kita suka menghabiskan waktu bersama mereka, adalah:

1. *Teman*

2. *Keluarga*

3. *Istri/suami*

And please, jangan protes kenapa istri/suami tidak di posisi pertama. Itu kan bukan jawaban saya   Itu adalah jawaban yang paling populer di dunia.

**

Nah, sekarang jawaban pertanyaan kedua…. (hati-hati ya, siap siap tersinggung   ).

Berdasarkan survey tersebut, orang yang paling dibenci untuk menghabiskan waktu bersama-sama:

1. *BOSS*

2. *Teman kerja*

3. *Customer*

Biasanya di sini para anak buah akan mengangguk-angguk dan berpikir, “Bener juga ya”

Dan para bos akan bertanya dengan sengit:

* itu survei di mana?

* siapa contohnya?

* metodologinya bagaimana?

(saya tahu, Sebagian pembaca artikel ini, akan mempunyai resiko tersebut, so don’t worry, you are not alone! Well bukan YWNWA, yang baru saja kalah sabtu malam). But, lets be open mind about it.

**

Kalau Anda sebagai anak buah merasa Anda tidak membenci spending time with your boss, maka syukurilah suasana Anda sekarang. Survey di atas menyatakan hasil rata-rata di dunia, jadi wajar kalau ternyata hasil di beberapa geographical area bisa saja berbeda. But what is interesting adalah mungkin tidak banyak orang yang menempatkan bos pada daftar posisi orang yang mereka suka menghabiskan waktu bersama. Padahal *as a boss,  you have to lead them, you have to give instruction, you have to develop them, and you have to motivate them. And if they don’t like you, how can you do with all of those?* OK, saya tahu, bahwa tujuan Anda sebagai bos bukan untuk menjadi orang yang paling disukai atau popular. It is true, there are times that you have to make a call and *make a difficult decision*.

But one of your job is also to lead them, to develop them, to influence them and to motivate them. 

*If they hate spending time with you, how can you achieve those?*

**

Pada setiap survey engagement karyawan, biasanya ada pernyataan:

“I believe my leader will do what they say they will do” (Saya percaya leader saya akan melakukan apa yang mereka bilang akan mereka lakukan). Sayangnya jarang sekali perusahaan mempunyai skor tinggi pada penyataan ini. Mengapa?

Karena seringkali terjadi inkonsistensi antara apa yang diucapkan oleh seorang leader dan apa yang dilakukannya. Akibatnya, makin lama makin susah bagi anak buah untuk mempercayai pemimpinnya. Dan makin lama makin susah bagi anak buah untuk menyukai pemimpinnya. Anak buah pun hanya datang untuk bekerja dan pulang setiap sore tanpa semangat untuk melakukan yang terbaik.

**

Remember, trust is earned, not given. You have to work hard to get the trust (from your team members). Jadi, itulah mengapa di dalam survei di atas banyak anak buah benci banget spending time with their boss. Pada hal mestinya step by step yang terjadi adalah:

1. *They like you*

2. *They listen to you*

3 . *They learn from you*

4. *They are led by you*

5. *They laugh with you*

When the team is solid, they spend time together and the team who work well together should also laugh together.

**

So, bagaimana dong untuk mencapai level itu? Lets try these…

1. *Recognize their achievement and contribution.*

Kapan terakhir kali Anda memuji anak buah Anda? Kapan terakhir kali Anda bilang ke seluruh tim bahwa apa yang mereka lakukan sangat berkontribusi signifikan bagi Perusahaan? Your team work hard for their tasks. May be the result is not yet there sometimes, but the extra effort are there. Pujilah mereka, katakan Thank You, salami, sebutlah nama mereka dengan positif di team meeting. They will feel appreciated.

**

2. *Make the work challenging*

Jangan memberikan pekerjaan yang sama berulang-ulang. Anak buah Anda juga ingin maju. Mereka juga ingin belajar. Jangan semua pekerjaan yang menarik Anda kerjakan sendiri dan yang menjenuhkan dan membosankan dikasih ke anak buah. Pikirkan untuk memberikan pekerjaan yang menarik dan membuat mereka belajar dan akhirnya mereka akan maju.

**

3. *Make the work interesting*

Pikirkan bagaimana membuat suasana kerja lebih menyenangkan dan lebih menarik. Bisa dimulai dengan dekorasi ruang, background music, suasana kerja yang ramah, suasana yang unofficial, team activity bersama, lunch, dinner bersama. Suasana kerja yang under pressure akan membutuhkan balance dengan hal hal yang menumbuhkan positive atmosphere.

**

4. *Develop them*

Tidak ada orang yang ingin melakukan pekerjaan yang sama seumur hidupnya, mereka ingin dipromosi.

Mereka ingin kemajuan karir mereka. Develop them. Send them to some trainings. Recommend them some great books. Coach them. Help them to build their network.

**

5. *Encourage them to take their own responsibility and accountability*

Meskipun Anda sebagai bos akan membantu mereka untuk mengembangkan kariernya, tetapi tekankan bahwa mereka harus bertanggung jawab terhadap karier mereka sendiri, mereka harus take ownership.

Ibaratnya pesawat, mungkin ada teknisi yang menyiapkan mesinnya (HR), ada pramugari yang bisa membantu (coach) dan ada traffic controller yang mengarahkan (supervisor). Tetapi kalau pilotnya tidak mau start the engine, pesawatnya nggak akan pernah take off.

They have to be the pilot of their own career.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto


IT’S OK TO BE NOT OK

 

**

Zahra termenung, muram, sedih, beberapa hari ini susah tidur. Zahra sudah berusia 27 tahun, sudah lulus S-1 Ekonomi 3 tahun yang lalu. Sayangnya belum mendapatkan pekerjaan juga. Dia menyambung hidup dengan ikut program magang, dari satu program ke program berikutnya. Sementara teman-temannya mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus, atau sudah menjadi manager, atau sudah bergabung dengan start-up yang menjanjikan.

Zahra sampai tidak berani datang ke acara makan-makan dan nongkrong bersama teman-teman seangkatan di universitas. Dia malu, setiap kali ditanya,”Lu sekarang kerja di mana?”

Zahra menutup diri, mengisolasi. Dia menjalankan tugas-tugas internshipnya, kemudian jam 5 sore teng, dia menutup laptopnya, dan menghibur dengan kesendiriannya di kamar kos, dia tak mampu keluar rumah jalan-jalan ke mall seperti temannya. Akhirnya dia banyak merokok, bahka kadang minum bir, dalam kesendiriannya, di malam yang dingin dan menyakitkan. Zahra tidak berani menceritakan hal ini ke orang lain, malu, takut diledek, tidak punya keberanian.

**

Situasi Zahra mungkin saja dialami beberapa anak muda lainnya. Mereka malu dengan phase kehidupan mereka, di mana meraka menganggap dirinya belum berhasil. Akibatnya menutup diri.

Padahal "It’s ok to not be ok".

Kita semua perlu memberikan dukungan kepada orang-orang yang mengalami tantangan emosional atau mental. Seseorang tidak harus merasa baik, dan kalau kita memang sedang berjuang , feeling down secara emosional atau mental itu adalah hal yang normal dan dapat diterima.

Kita semua perlu embantu seseorang merasa tenang ketika mereka mengalami kesulitan emosional atau mental. Misalnya, jika Kita melihat seorang teman sedang sedih atau depresi, Kita dapat mengatakan "It’s ok not be ok" kepada mereka. Ini berarti Kita menawarkan dukungan emosional dan bahwa perasaan mereka normal.

**

Zahra, atau mereka yang masih muda, dan memerlukan bantuan, juga tidak perlu malu.

Angaplah bahwa hidup ini adalah perjalanan mendaki gunung. Sangat wajar kalau dalam pendakian pertama, kita masih merasa hilang dan tersesat. Saat melihat pendaki gunung lain yang turun gunung dari arah berlawanan, it is okay untuk menanyakan jalan yang tepat, kan mereka sudah tahu, setelah mereka pulang, mungkin saja sebelumnya mereka tersesat untuk menuju ke puncak.

So, it is okay to ask and get help.

**


Membicarakan kesehatan mental Kita mungkin terasa sulit, terutama saat Kita merasa sedih, khawatir, atau cemas. Namun, berbicara dengan seseorang tentang perasaan Kita dapat membantu Kita melihat sesuatu secara berbeda dan menemukan jalan keluar.

**

Kapan harus berbicara dengan seseorang

Kesehatan mental yang baik tidak berarti selalu merasa bahagia atau positif. Setiap orang memiliki suka dan duka, dan kita semua terkadang bisa merasa stres atau khawatir. Namun, ketika perasaan-perasaan tersebut mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari Kita, itu bisa menjadi tkita bahwa Kita membutuhkan dukungan. Menyadari saat Kita sedang berjuang adalah langkah pertama, dan menghubungi seseorang dapat membuat perbedaan besar.

**

Pilih siapa yang akan diajak bicara

Mulailah dengan memikirkan siapa yang bisa Kita ajak bicara. Luangkan waktu sejenak untuk menuliskan beberapa orang yang Kita percaya di ponsel atau selembar kertas. Mungkin teman, anggota keluarga, atau kolega yang dekat dengan Kita, atau Kita mungkin merasa lebih mudah untuk terbuka kepada seseorang yang tidak terlalu Kita kenal. Saat Kita memutuskan siapa yang akan diajak bicara, beri tahu mereka jenis dukungan apa yang Kita inginkan. Mereka mungkin akan bertanya atau meminta sesuatu kepada Kita juga. Ingatlah bahwa tidak semua orang akan merasa mampu memberikan dukungan yang Kita butuhkan.

Jika orang yang Kita pilih tidak merasa mampu mendukung Kita, jangan anggap ini sebagai hal yang pribadi. Mungkin ada berbagai alasan mengapa mereka belum siap. Pertimbangkan kembali siapa lagi yang menurut Kita mungkin bermanfaat untuk diajak bicara.

**

Rencanakan apa yang ingin Kita katakana

Sebelum berbicara, luangkan waktu sejenak untuk memikirkan apa yang ingin Kita katakan. Menuliskan beberapa pemikiran di ponsel atau selembar kertas dapat membantu. Kita tidak harus mengatakan semuanya sekaligus. Mulailah dengan mengatakan, "Saya merasa [stres/khawatir/cemas] dan saya hanya butuh seseorang untuk diajak bicara." 

Memilih waktu dan tempat yang tepat juga dapat membantu. Beberapa orang merasa lebih mudah berbicara sambil berjalan, di dalam mobil, atau melakukan sesuatu seperti memasak. 

Ini dapat membuat percakapan terasa lebih alami dan mengurangi tekanan pada kontak mata, yang sulit bagi sebagian orang. Berbicara di telepon juga dapat membantu. Usahakan mengobrol ketika Kita berdua punya waktu, agar tidak terasa terburu-buru. Namun, jangan biarkan kesempatan yang tepat menghalangi Kita untuk berdiskusi!

*


Memulai Percakapan

Setelah Kita memilih seseorang, beri tahu mereka apa yang Kita butuhkan dari percakapan tersebut. Kita mungkin menginginkan saran, dukungan, atau sekadar seseorang untuk mendengarkan. Tidak masalah untuk memberi tahu mereka hal itu.

Ajak mereka untuk bertanya, percakapan berjalan dua arah dan mereka mungkin juga menghargai kesempatan untuk berbicara dengan Kita.

*

Communication Tips

Ada beberapa tips yang bisa kita pertimbangkan untuk melakukan diskusi tersebutL

- Jujur: Bicaralah berdasarkan pengalaman Kita; gunakan pernyataan "saya" (misalnya, "Saya merasa cemas...").

- Gunakan Bahasa yang Jelas: Jelaskan perasaan dan pengalaman Kita.

- Mintalah Apa yang Kita Butuhkan: Entah itu mendengarkan, memberi saran, atau membantu menyelesaikan tugas.

- Bersiaplah untuk Reaksi: Orang mungkin merespons dengan terkejut, empati, atau ragu, atau bisa juga langsung memberikan nasihat.

Tidak apa, kita harus percaya, dengan didengarkan, sebenarnya sudah satu Langkah kemajuan, kalau ternyata mendapatkan saran yang postif, Alhamdulillah, kita mencapai tujuan kita.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto


HIMASALJU (HIMpunan MAhasiswa SALah JUrusan)

Dila baru lulus jurusan Teknik Mesin, di sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Saat selesai mengujinya, dosen pembimbingnya mengucapkan selamat,”Kamu hebat! Bisa lulus Teknik Mesin dalam waktu 4 tahun tepat. Dan itupun termasuk 6 bulan program kuliah di Korea. Hebat ya …Selamat!”

“Terima kasih, Pak.”

“Terus , habis ini gimana? Kuliah S-2 Teknik Mesin? Atau kerja di Engineering?”

“Oh … saya sudah rencana untuk bekerja di bisnis Pak. Bukan di Teknik Mesin lagi.”

“Lho, mengapa?”

*Passion saya di dalam bisnis* Pak. Waktu saya kuliah di Korea 6 bulan, saya ambil Finance dan Business, saya lebih enjoy belajar dan bekerja di bidang itu?”

“Lho, orang tuamu memperbolehkan kamu? Mereka gak marah  membiayai bertahun-tahun kuliah 4 tahun dan ternyata tidak terpakai?”

“Maaf Pak. Pertama, *orang tua saya tidak pernah menyuruh atau melarang* saya. Saya kuliah Teknik Mesin itu pilihan saya sendiri.

Kedua, kata ayah saya, kuliah saya itu belajar bukan hanya Teknik Mesin, tetapi *belajar untuk memahami dan menganalisas proses yang kompleks*, kemudian 

*Memecahkan masalah yang rumit dengan cara sederhana*. Dan itu akan dipakai di semua bidang pekerjaan Pak”

Pak Anto,  dosennya, masih agak kebingungan.

**

Betapa beruntungnya Dila yang orang tuanya membebaskan pilihan ke Dila. *It is her life, it is her adventure, hence it should be her choice!*

Dan masih banyak orang-orang  yang mempermasalahkan pekerjaan dengan ijazah.

Tapi di Indonesia memang mungkin pemahaman hasil ini masih kurang ya.

Wajar, Peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia untuk tahun 2024 masih tergolong rendah. Baru di ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke-6, di belakang Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Masih kalah jauh untuk menjadi yang terbaik.

**

Padahal di negara-negara maju hal ini sudah lama terjadi. Dulu pernah CEO Citibank Asia Pacific adalah lulusan Teknik Nuklir.

Tahun 2000-an

Project Manager terbaik di Nokia Networks Asia Pacific adalah lulusan sosiologi. 

Padahal Menteri Kesehatan kita lulusan Fisika, Menteri Keuangan lulusan Elektro. Dan ini bukan hanya di pemerintahan, di perusahaan Multinational company juga.

Saat ini CEO sebuah bank asing terkenal adalah lulusan Kimia dari Amerika. Sekarang ini, HR Director di sebuah perusahaan air mineral terbesar adalah lulusan Teknik Nuklir dari UGM.

Saat saya masih kerja di Citibank, CEO Citibank Asia Pacific lulusan Teknik Nuklir. 

Buku-buku saya diterbitkan oleh sebuah penerbit terkenal di Bandung. Waktu itu CEO nya adalah lulusan Astronomi.

Seperti disampaikan orang tua Dila, kuliah itu belajar bukan hanya jurusannya, tetapi belajar untuk memahami dan menganalisas proses yang kompleks, kemudian memecahkan masalah yang rumit dengan cara sederhana. Dan itu akan dipakai di semua bidang pekerjaan.

Maka di perusahaan-perusahaan terkenal, pasti ada program Management Trainee (atau Graduate development program), yang menerima mahasiswa dari jurusan apapun, dan dikembangkan dalam bidang apapun yang dibutuhkan di perusahaan (sales, marketing, operations, productions ...etc).

*

Terus kadang ada yang bertanya,”Kan ada yang bilang, kalau sebuah urusah diserahkan pada bukan ahlinya, maka akan binasa”

Benar sekali, yang *dipermasalahkan  adalah keahlian* (bukan ijasahnya).

Sebuah negara di Afrika menyerahkan posisi Menteri keuangan pada lulusan ekonomi keuangan, ternyata ekonominya negara itu juga gak bagus juga,  angka pengangguran banyak, kemampuan beli kelas menengah turun, di sebuah negara di Afrika itu.

*Ternyata keahlian tidak ditentukan oleh ijasahnya*. Kalau diam mau belajar, mungkin saja S-2, S-2 atau bahkan autodidact (belajar sendiri) dengan tekun, ternyata juga bisa menjadi ahli,

**


Banyak di antara kita yang tenggelam dalam bidang yang kita tekuni. Lupa untuk belajar something new. Padahal *skills apapun yang kita kuasai suatu saat akan tergantikan oleh computer yang harganya makin murah*. That’s life. *Your strength can kill you.*

Seorang sahabat saya baru saja kehilangan pekerjaannya, terkena efisiensi dari perusahaannya, karena industry di mana dia bekerja sedang terkena krisis, dan trend bisnisnya terus menurun.

Sekarang dia kebingungan mencari pekerjaan karena dia hanya menguasai skills itu. Padahal dia pintar sekali. Lupa untuk mempelajari hal-hal lain di luar bidang keilmuannya.

Kenapa gak buka usaha sendiri? Buka usaha sendiri juga perlu kemampuan finance, marketing …dll, di luar bidang yang dia dalami selama ini.

*Kuncinya adalah belajar terus*, dan menghargai orang lain yang pernah berhasil membuktikan dirinya mampu mempelajari beberapa bidang keahlian, di luar bidang yang tadinya dialami di kuliahnya.

*That’s agility*.


Saya sendiri pernah melakukannya pada saat saya memulai karier saya sebagai IT engineer dan IT project manager, saya melihat prospek yang lebih cerah di HR field. Saya pun kuliah lagi ambil MBA.Dan sejak itu pun karier saya di HR field berkembang pesat.

Intinya , memang anda harus mengandalkan core competence anda. Dan anda harus bekerja semaximal mungkin untuk berkontribusi dan mengembangkan karier anda pada bidang yang sesuai dengan passion anda.

Sambil memperlajari bidang lain untuk meningkatkan portfolio anda. And *be  open mind about it*.

It worked for others, , it worked for me and it might work for you too.

*

Jadi apa yang harus anda lakukan, untuk mempersiapkan Plan B dalam karier anda? Coba ikuti lima rekomendasi di bawah ini :

a) *Be open-minded about where you want to work.*

Jangan menganggap bahwa karier anda adalah job yang anda lakukan sekarang. Terbukalah pada alternative lain.

Siapa tahu anda mempunyai “hidden talent” yang anda bisa explore dan ternyata performance anda lebih bagus di situ.

You dont know until you try.

Be open mind.

Explore and experiment.

*

b) *Think about alternative jobs you could do with your qualifications and strengths.* 

Mestinya anda punya competence lain (finance, presentation skills, customer handling, people management ...etc).

Coba pikirkan job apa lagi yang bisa anda kerjakan selain job anda sekarang.

*

c) *Strengthen your secondary competences*

Perkuat secondary competences anda. Bisa dengan ikut training, belajar dari orang lain (coaching), tetapi terutama dengan learning by doing.

Secara suka rela tawarkan diri anda untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam tugas tugas di luar scope pekerjaan anda sekarang.

This is the best way to learn.

*

d) *Focus on your own development*

Mudah sekali bercita-cita untuk mengembangkan diri kita, mengembamgkan kompetensi kita. Tetapi begitu masuk dalam rutinitas kerja, seringkali terlupakan juga.

Focus on your own self development.

Make it your priority.

Remember, your success and survival in the future will depend on it.

*

e) *Build and expand your networks*

Jangan lupa membangun dan memperluas networking anda. Seringkali informasi tentang karier dan opportunity akan anda dapatkan dari networking anda.

Perkenalkan diri anda, competences anda dan apa yang anda bisa bantu kepada orang-orang di networking ands.

**

Jadi ingat ya, untuk mempersiapkan Plan B dalam karier anda. Coba ikuti lima rekomendasi di bawah ini :

a) Be open-minded about where you want to work. 

b) Think about alternative jobs you could do with your qualifications and strengths. 

c) Build a secondary competences

d) Focus on your own development

e) Build and expand your networks

*

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto