THE DEATH OF BLACKBERRY


Minggu lalu, saya dan teman-teman alumni ITB yang tinggal di Bogor, kumpul-kumpul sambil ngobrol-ngobrol di daerah Taman Yasmin. Kami sekitar belasan orang. Menarik juga, bercanda, diskusi sambil minum kopi dan makanan ringan.

Tiba-tiba ada nyeletuk,”Dulu kita semua masih pakai Blackberry ya, waktu itu terasa keren banget.”

Dan memang itu benar. Tahun 2009, saya dan keluarga pindah dari Beijing ke Jakarta. Dan waktu itu kami seperti “Alien” yang mendarat dari planet lain, ke planet Bumi. Tiba-tiba semua orang, teman, keluarga, kolega, semua bertanya,”BB PIN nya berapa pak?”

Dan saya dan istri saya melongo. Kami tidak punya Blackberry. Dan itu seperti dianggap hal yang aneh. 

Lebih parah lagi, di rumah kakak ipar, saya pinjam charger handphone. Dia bilang,”Oh handphone itu, bukan Blackberry. Sebentar ya, kayaknya pembantu rumah tangga kami masih pakai handphone biasa juga.”

**

Tentu saja, saya harus menyesuaikan diri, dan tidak lama kemudian menggunakan Blackberry. Waktu itu memang Blackberry hebat sekali. Perusahaan Kanada, RIM (research in motion) yang dirintis Mike Lazaridis and Douglas Fregin.

Waktu itu kita familiar dengan tipe-tipe seperti 8520 (Gemini), 9000 (Bold), Torch, Bellagio, Dakota … dan lain-lain. Blackberry sangat sukses, karena dirancang oleh dua computer engineer, dengan focus pada security. Maka informasi di dalamnya pun sangat aman, dan tidak bisa dibuka atau di-hack oleh yang lain, selain penggunanya. Tentu saja ini disukai oleh perusahaan-perusahaan yang sangat mengutamakan security of information.

Nokia yang tadinya meremehkan mereka, karena pengguna Blackberry hanya pengguna corporate, akhirnya harus menelan pil pahit. Serelah pengguna corporate, lama-lama pengguna pribadi juga sangat menyukainya. Saya belum mengerti mengapa bapak-bapak ingin informasinya “secured” dari istri-istri mereka, tapi ya sudahlah, itu urusan mereka.

Lama-lama market share Nokia turun drastic dihajar Blackberry. Dan Blackberry menuai kesuksesan mereka selama beberapa tahun. Mereka menjadi salah satu market leader pada tahun 2010-an.

**

Sayangnya, tiada yang kekal dan abadi di dunia ini. Siang berganti malam, malam berganti siang. Kesuksesan masa lalu sama sekali tidak menjamin kesuksesan di masa depan. Pada tahun 2015, market share itu mendekati NOL persen. Dan Blackberry pun bangkrupt (bahasa Inggrisnya), bangkrut atau tutup (bahasa Indonesianya), dan KUKUT (bahasa Jawa). Sayang sekali kejayaan itu tidak bertahan lama. 

Apa yang terjadi? Mengapa mereka bisa tutup dengan product sehebat itu?

Pada tahun-tahun itu , saya berpindah karier dari sebuah perusahaan yang memproduksi HandPhone ke perusahaan yang menjadi operator telekomunikasi (market leader di Indonesia). Jadi saya bisa dengan obyektif menganalisa. Ternyata ada 3 faktor yang membuat mereka jatuh.

1) *Slow adapt to Technology*

Ternyata Blackberry begitu bangga pada technology mereka (messaging, security, corporate services), yang membuat mereka unggul di awal, tapi ternyata setelah itu mereka lambat dalam mengembangkan upgrade dan update teknologi berikutnya. Misalnya tentang feature touch-screen, yang mereka lambat dibandingkan dengan competitor. Akibatnya pelan-pelan pelanggan meninggalkan Blackberry.

**

2) *Neglect consumer market*

Blackberry begitu focus pada Corporate services, dan mengabaikan consumer market (pelanggan pelanggan pribadi). Kompetitor mereka datang dengan product yang lebih menarik buat para pelanggan, dan akibatnya pelan pelan mereka meninggalkan, dan akhirnya pelanggan corporate pun mulai berpaling.

**

3) *Limited Applications ecosystem*

Lama kelamaan, pelanggan tidak hanya membutuhkan messaging, tetapi juga aplikasi yang lain, music, podcast, internet browsing, search engine, meeting/scheduling dan lain-lain. Kejatuhan Blackberry semakin parah, saat competitor menawarkan apps-apps tersebut dengan cepat, saat mereka belum siap.

**

Kasus Blackberry membuat kita belajar. Begitu banyak perusahaan yang menjadi No.1 tapi kemudian lengah dan akhirnya binasa. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi perusahaan perusahaan yang sekarang menjadi No. 1.

Terus bagaimana dong? Intinya adalah....*Become No. 1, but behave like No. 2*

Harus tetap selalu semangat dan competitive setiap hari!

Kalau di depan anda tidak ada competitor (karena anda sudah menjadi No. 1), ciptakan musuh bayangan di depan anda. Your enemy will be yourself. Selalu bandingkan performance anda tahun ini dengan performance anda tahun lalu. Perbesar growth anda dari tahun ke tahun

**

Terus secara kongkrit, apa yang kita  bisa lakukan bersama dengan tim kita di perusahaan.

a) *Focus on your customers*

Selalu amati apa yang customer anda lakukan. Siap siap berinovasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ingat, sebenarnya Blackberry tidak pernah kalah dari competitor mereka. Tapi mereka  gagal mengantisipasi bahwa customer tidak hanya memerlukan messaging services, mereka memerlukan begitu banyak apps lain.

Look, watch, observe and analyze your customer.

Tidak boleh lengah, selalu amati mereka, dan berikan apa yang terbaik (dan paling relevant) untuk mereka.

**

b) *Be paranoid, scare yourself, scare your team*

Memang enak kalau kita menjadi pemenang. Masalahnya bisnis kita ini bukan seperti lari 100 meter (sprint). Bisnis kita ini bisa diibaratkan seperti marathon.Perlombaan lari yang sangat panjang. Memerlukan stamina yang tinggi. Competitor anda akan selalu bersiap siap untuk mengejar dan menyalip anda. Scare yourself. Scare your team. Wake up. Send the sense of urgency.

**

c) *Build a challenger mindset*

Bersikaplah seperti nomor dua atau tiga. Kalau perlu undang mereka yang sedang menjadi challenger di industry lain dan tanyakan apa saja yang mereka lakukan agar competitive. Undang juga seorang market leader yang lama berada di posisi puncak di Industri lain dan tanyakan bagaimana mereka mempertahankan diri sekian lama.

**

Remember, in the end of the day, you have to be No. 1, and behave like No.2, it will help you to stay as No.1

**

Salam Hangat,


Pambudi Sunarsihanto


Wake up calls 4 leaders


 


70-20-10: THE EFFECTIVE WAYS TO DEVELOP OUR TALENTS


**

Dalam perjalanan dinas terakhir saya ke Singapura, saya sempat bertemu teman lama dari Swedia.

Sebut saja namanya Anders, seorang Regional Director, yang bertanggungjawab untuk pengembangan bisnis perusahaannya di wilayah Asia Pasific.

Setelah berdiskusi tentang beberapa teman lama, dan minum kopi serta croissant kami, mulailah Lars berdiskusi.

“Pam, apakah problem ini dimiliki oleh semua perusahaan di Asia ya?”

“What is the problem you are referring to?” tanya saya.

“Saya punya masalah dalam mengembangkan talent. Kami harus mengembangkan bisnis ke beberapa negara baru yang marketnya belum pernah kami masuki. Kami juga harus melakukan akuisisi pada beberapa perusahaan baru. Tapi untuk itu, kami kekurangan talenta atau business leader yang perlu menjalankan bisnis baru tersebut. Dan ini sangat menghambat perkembangan bisnis kami. Kami tidak bisa mengandalkan perekrutan pegawai baru dari luar untuk menjalankan bisnis baru tersebut. Mereka tidak akan mengenal product kami, mereka tidak akan mengenal budaya perusahaan kami. “

“Lha sebelumnya, talenta-talenta yang ada tidak dikembangkan?”

“Mereka sudah banyak ditraining. Kami sudah menyelenggarakan pelatihan. Bahkan mengirimkan mereka training ke Shanghai, London dan bahkan beberapa ke Harvard. Tapi impactnya tidak maximal!”

“Jadi, selama ini pengembangan talent hanya dengan melalui training?”

“Lha? Memangnya? Apa lagi yang bisa dilakukan?”

**

Sebenarnya pertanyaan Anders ini sangat relevant. Banyak CEO merasa sudah mengabiskan banyak uang (dan waktu) untuk mengirimkan talent-talent mereka ke training, tapi hasilnya tidak maximal. Apa yang terjadi?

Realitasnya adalah, di training classroom (atau di OnLine learning), banyak yang hanya belajar teori. Bahkan banyak yang pergi ke training, di sana mendapatkan training binder berisikan materi yang tebal-tebal, pulang ke kantor, binder disimpan di lemari, dan ilmunya tidak pernah terpakai.

**

Apa yang biasanya dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk menjalankan training?

Pertama, biasanya dimulai dengan Training Needs Analysis. Kemudian mereka akan memanggil seorang trainer. Setelah itu mereka berdiskusi dan meng-customize materi trainingnya. Sebelum mereka menjalankan trainingnya, mereka bertanya ke trainernya, berapa maximal peserta dalam satu class? Anggaplah, misalnya 30. Maka, dengan dalih untuk memaximalkan benefit investasi, maka mereka akan memanggil 30 peserta training.

Lha? Padahal kebutuhan 30 orang itu biasanya berbeda-beda kan? Terus apa yang terjadi? 10 peserta yang relevant akan benar-benar mendengarkan dan mendapatkan benefitsnya. 10 yang sopan akan ngantuk-ngantuk sambil WA-an dengan WA group alumni universitasnya, SMA, SMP, RT/RW dan lain-lain, yang 10 lagi bertanya-tanya, “Ngapain kita ada di sini?”. This is sad, unfortunately it is still true in many companies. Kebutuhan manusia kan beda-beda?

**

Padahal, sebuah pepatah Tingkok kuno, sudah pernah mengatakan,” I Hear And I Forget. I See And I Remember. I Do And I Understand.” (Aku mendengar dan aku lupa. Aku melihat dan aku mengingat. Aku melakukan dan aku mengerti.).

Artinya apa? Belajar yang paling efektif adalah dengan mengerjakan (LEARNING BY DOING). Berarti kitab isa saja mengirimkan talent-talent kita training ke 8 penjuru dunia, tapi kalau kita tidak encourage (mendorong) dan mewajibkan mereka menerapkan ilmu yang dipelajari, kita sedang menyia-nyiakan budget perusahaan. Dan ini sejalan dengan konsep LEARNING 70-20-10.

Model LEARNING 70:20:10 menunjukkan bahwa 70% pembelajaran berasal dari pengalaman kerja, 20% dari interaksi sosial, dan 10% dari pelatihan formal.

Ini adalah adalah kerangka kerja untuk pembelajaran dan pengembangan talent yang menekankan bagaimana karyawan kita yang punya potensi tinggi dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan di tempat kerja, dengan cara yang maximal. 

Model ini dikembangkan oleh Morgan McCall, Michael Lombardo, dan Robert Eichinger berdasarkan survei eksekutif tahun 1996, yang menyimpulkan bahwa sebagian besar pembelajaran mereka berasal dari pengalaman praktis (Learning By Doing), interaksi dengan orang lain (Coaching atau Mentoring), -dan pendidikan formal (classroom training atau e-Learning) dengan rasio sekitar 70:20:10 (70% pengalaman, 20% pembelajaran sosial, 10% pembelajaran formal).

Memang beberapa kritikus mencatat bahwa model ini kurang memiliki bukti empiris yang kuat, persentase pastinya bersifat arbitrer, dan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan lingkungan pembelajaran modern yang dipengaruhi oleh teknologi dan metode pembelajaran informal. Meskipun demikian, model ini tetap menjadi referensi yang banyak digunakan untuk merancang strategi pembelajaran. Saya sendiri melakukannya di beberapa perusahaan di mana saya bekerja, dan berjalan dengan baik.

**

What does it means?

70% Pembelajaran di Tempat Kerja: Sebagian besar pembelajaran terjadi melalui tugas-tugas yang menantang, pemecahan masalah, eksperimen, dan refleksi selama pekerjaan sehari-hari. Pengalaman langsung ini memungkinkan karyawan untuk mengembangkan keterampilan praktis dan beradaptasi dengan situasi dunia nyata. Berikan mereka assignment yang membuat mereka mempelajari hal-hal baru, yang sesuai dengan kebutuhan (atau competence gaps, yang selama ini menghambat pengembangan mereka).

**

20% Pembelajaran Sosial: Belajar dari orang lain, termasuk umpan balik, bimbingan, pelatihan, dan pengamatan rekan kerja, memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan. Ini menekankan pentingnya kolaborasi dan belajar dari contoh positif dan negatif.

Sebenarnya yang paling bermanfaat adalah pembelajaran melalui coaching dari atasannya. Sayangnya banyak atasan yang sibuk sana-sini, meeting sana-sini, bahkan kadang membatalkan banyak meeting untuk dipanggil oleh para “stakeholders” mereka. Mereka tidak bisa disalahkan juga, itu bagian dari tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.

Solusinya bagaimana? Kalau internal coach tidak efektif, ya gunakan external coach (mereka dari luar perusahaan, utamakan yang pernah jadi CEO, pernah menjadi direksi, pernah menjadi VP, yang pernah mempunyai strong track record dalam pekerjaannya, tahu bagaimana “bekerja”, bukan hanya para consultant yang seumur hidup hanya jadi consultant, tanpa mengerti susahnya “bekerja yang bener”). Mereka bisa membantu mengembangkan talent-talent kita, dengan sharing experiences yang pernah mereka hadapi sebelumnya, dan membantu talent mengembangkan diri untuk menutuk competence gaps mereka.

**

10% Pembelajaran Formal, tetap perlu dilakukan. Talent-talent bisa tetap mengikuti training, seminar, on-Line learning dan materi bacaan memberikan pengetahuan dasar dan mendukung pengembangan keterampilan. Meskipun proporsinya lebih kecil, pembelajaran formal sangat penting untuk memperkenalkan konsep dan kerangka kerja baru.

**

Intinya apa? Jangan hanya mengandalkan training saja. Pengembangan yang optimal memerlukan kombinasi yang tepa tantara “Learning by doing” (70%), “Coaching/mentoring, internal atau external” (20%), dan pembelajaran teori (Classroom, online learning …dll).

**

Terus, bagaimana menerapkannya?

Organisasi dapat mengimplementasikan model 70:20:10 dengan:

Merancang tugas kerja yang menantang yang mendorong pembelajaran berbasis pengalaman.

Mendorong budaya pembelajaran dari orang lain: mentoring, coaching, pembelajaran dari rekan kerja (peers) dan mekanisme feedback (umpan balik).

Menawarkan pelatihan formal yang ditargetkan untuk melengkapi pembelajaran praktis dan sosial.

Menggunakan model ini sebagai pedoman yang fleksibel , dengan menyesuaikan rasio dengan peran spesifik dan kebutuhan masing-masing individu/talent dalam organisasi.

**

Salam Hangat, 

Pambudi Sunarsihanto


STAY RELEVANT, STAY COMPETITIVE

 

**

Minggu lalu, sebuah perusahaan raksasa teknologi dari Eropa mengumumkan bahwa mereka akan melakukan PHK pada ribuan karyawannya. Padahal laporan keuangan perusahaan itu sangat baik. Net Income naik, sales naik, Gross margin di 48.1%, dan EBITDA marginnya 28.1%.

Mungkin akan banyak yang bertanya-tanya. Kalau perusahaan dengan kinerja financial bagus seperti itu, mengapa harus melakukan PHK pada ribuan karyawan?

Karena:

- *Dunia memang sedang tidak baik-baik saja*, banyak krisis global di depan mata, semua harus melakukan efisiensi dan jaga stamina untuk krisis yang mungkin akan berkepanjangan ini

- Setiap perusahaan, dalam situasi apapun, *harus meningkatkan efisiensi*, dan menurunkan cost, termasuk cost ketenagakerjaan (ingat, profit = revenue – cost), harus cari cara meningkatkan revenue dengan meningkatkan cost (dan ini banyak alternatifnya).

- *Stay competitive*: harus selalu memperhatikan berapa cost kita, dan dibandingkan dengan competitor kita, ingat di luar sana, banyak competitor yang menawarkan harga yang lebih efisien dengan quality yang sama (atau lebih baik)

- Banyak perusahaan akan menerapkan *digitalisasi, automatisasi dan artificial intelligence*: dalam karier saya, saya perlu membangun pabrik dengan kapasitas yang lebih tinggi, tapi dengan cost yang lebih rendah. Sebuah pabrik yang  dibangun tahun 1990, dengan 1200 karyawan, ternyata saat pabrik dengan kapasitas yang lebih besar dibangun tahun 2010, hanya membutuhkan 50 karyawan. Sebuah pabrik yang dibangun tahun 1980 dengan 12,000 karyawan, ternyata saat dibangun tahun 2020, hanya membutuhkan 300 karyawan.  Semua dimungkinkan karena perkembangan teknologi, digitalisasi dan artificial intelligence. Perusahaan yang tidak melakukan itu akan ketinggalan (dari competitornya).

**

Konsekwensi bagi para karyawan adalah: *Semua harus bersiap-siap*. Kalau tidak belajar, menambah ilmu dan kemampuan, kita akan dengan mudah digantikan oleh karyawan yang lebih muda (dan lebih murah), atau digantikan oleh digitalisasi dan artificial intelligence. Maka kita semua perlu belajar keras setiap hari, agar kita terus relevant, dan terus bertahan. Kecuali kalau memang kita ingin membuka perusahaan sendiri (dengan segala keuntungan dan resikonya).

Kalau tidak, ya tetap harus bersiap-siap sekitainya , anytime kita diminta  keluar karena tidak relevant lagi (seperti karyawan-karyawan perusahaan teknologi dari Eropa di atas, diPHK saat kinerja financial perusahaan lagi bagus-bagusnya (analogi nya, seperti diajak putus pacarana, saat kita sedang sayang setengah mati pada kekasih tersayang, sakit kan?

**

Apa yang perlu kita lakukan sebagai business leader?

Andrew Grove, co-founder INTEL, pernah mengatakan,"*Only paranoid will survive*" (this means others will die, the ones who are complacent will die).

Karena paranoid selalu waspada, karena paranoid selalu panik. Karena paranoid merasa selalu dalam kegelapan. Well... mungkin life is not that extreme. But please make sure you are not complecent.

Sekarang saya akan memberi contoh perusahaan perusahaan yang complacent atau lengah atau lupa.

a) *Lupa melihat customer*

Sebuah perusahaan tinta cetak photo ternama dari Jerman lupa dan lengah melihat trend bahwa customer tidak mencetak photo lagi. Akibatnya pendapatan merosot tajam dan akhirnya bangkrut.

b) *Lupa melihat competitor*

Sebuah perusahaan handphone ternama lupa atau lengah melihat bahwa kompetitor mereka maju jauh lebih pesat sementara mereka berkutat dengan software platform milik mereka sendiri. Mereka ditinggalkan customer setia mereka dan pendapatan menukik tajam.

c) *Lupa melihat technology*

Sebuah perusahaan baja dulunya sangat jaya, mereka merajai pasar, dengan baja yang mereka produksi, Ternyata mereka lupa atau lengah melihat bahwa teknology dari negara lain mampu membuat baja dengan teknologi dan cost yang jauh lebih rendah dan quality yang sama. Akhirnya pelanggan mulai berpaling,Akibatnya pendapatan perusahaan menurun tajam dan perusahaan itu kini terlilit banyak hutang, 

Ada 3 faktor LUPA (atau complacent), semuanya konsekwensi nya fatal bagi bisnis.

Ingat, semuanya bermula dari lupa atau lengah melihat sekeliling kita, dan lengah untuk berwaspada menghadapi masa depan.

**

Jadi apa dong yang harus kita  lakukan sebagai seorang leader?

1. *LETTING GO THE PAST GLORY*

Jangan terbuai dengan kejayaan di masa lalu. Sebesar apapun kita, sehebat apapun kita, ternyata masih bisa juga hancur ditelan waktu apabila lengah. Lihat contoh contoh di atas.

Mindset untuk tidak terus menerus terbuai dengan masa lalu tetapi fokus kepada masa depan akan sangat penting untuk survival kita.

**

2. *DEVELOP A BOLD VISION FOR THE FUTURE*

Bersama sama tim kita harus mengembangkan visi baru yang ambisius, jelas dan bisa menginspirasi semua team member.

a) Set the objectives

b) Visualize the success: Draw the picture how the success would look like.

c) Then motivate your team to move to the right direction.

d) Implement with consistency

Lihat ke empat Langkah tersebut: a), b), c) dan d). Banyak yang hanya melakukan a) dan d), lupa melakukan b) dan c). Maka banyak yang gagal bertransformasi (70%) karena hal tersebut. Lakukan dengan konsisten keempat Langkah di atas.

**

3. *ENGAGING YOUR EMPLOYEES AND ALL KEY STAKEHOLDERS*

"The worse situation a leader can be in, is when he has no follower"

Kadang kadang leader terlalu ambisius dengan visinya, berlari cepat seorang diri dan baru menyadari bahwa ternyata anak buahnya nggak ada yang ikut di belakangnya.

You have to engage all the team members and all the key players, your peers, your boss and your stakeholders.

**

4. *BUILD LEARNING AGILITY AND KEEP FUTURE-FOCUSED*

Pada saat team sudah berlari kencang tetaplah waspada. Ingat bisa saja trend berganti begitu cepat.

Bisa saja customer meninggalkan kita karena hal hal yang selama ini tidak kita perhitungkan.

Makanya kita harus selalu waspada dan terus menerus membentuk learning agility, kemampuan seorang individu dan sebuah organisasi untuk mempelajari hal hal baru demi masa depan.

**

Salam hangat,


Pambudi Sunarsihanto


WHAT DID YOU LEARN FROM YOàUR FAILURES?

 *

Minggu pagi itu, saat saya jalan-jalan tanpa sengaja, saya bertemu dengan seorang teman. Sebut saja namanya Putra, CEO di sebuah perusahaan yang cukup besar di Jakarta. 

“Mas Pam. Wah, lama kita gak ketemu mas. Ngopi yuk.”

Kami pun berjalan sedikit lagi, dan berhenti di sebuah tempat ngopi.

Setelah diskusi banyak hal, termasuk masalah ekonomi dunia, masalah sepakbola dan juga bercanda sana-sini. Saya pun bertanya kepada mas Putra.

“Mas, kalau mas Putra memilih seorang karyawan baru untuk masuk di perusahaan, apa *karakter tertentu yang mas Putra cari*?

“Selain semua proses yang dijalankan, dan semua pertanyaan interview yang biasa dijalankan, saya biasanya bertanya, sebutkan *kegagalan yang pernah kamu alami*, dan *apa yang kamu pelajari*?”

“Semua candidate ditanya itu mas?”

“Saya menanyakan itu dalam semua interview “

“Mengapa mas?”

“Karena kegagalan melambangkan banyak hal….

a) dia orang yang selalu berusaha *mengetest dirinya sendiri* dan *meningkatkan standardnya*, dengan *mendorong dirinya sendiri untuk lebih baik lagi*. Yang tak pernah gagal mungkin nyaman dan tidak mem-push dirinya lagi.

Analogi-nya seperti halnya atlet angkat besi, ada yang puas setelah angkat 70 kg dia terus menerus mengangkat 70 kg, tapi ada yang kemudian berusaha angkat 80 kg, setelah itu 90 kg dan seterusnya.

Saya memerlukan orang yang terus menerus meningkatkan standardnya sendiri, *saya tidak memerlukan mereka yang nyaman berada di zona nyaman*

b) dia *pemberani*, berani mencoba, berani gagal, berani bangkit lagi

c) dia *pembelajar*, berarti dia belajar dari kegagalannya dan meningkatkan dirinya lagi

d) dia adalah seorang *“risk-taker”*, berani mengambil resiko!

Biasanya orang-orang seperti itu yang saya butuhkan dalam pejerjaan yang makin lama makin kompleks”

**

Benar juga ya. Jangan-jangan orang yang tidak pernah gagal adalah orang-orang yang di zona nyaman, mau enaknya saja, dan tidak mau bekerja keras lagi.

Roger Federrer, seorang juara tenis, pernah menyampainan,” Kesempurnaan adalah hal yang tidak mungkin. Bahkan pemain terbaik pun hanya memenangkan sekitar 80% pertandingan mereka, yang berarti mereka sering mengalami kegagalan. Perspektif ini mendorong atlet dan individu untuk *menerima bahwa kegagalan dalah bagian dari perjalanan*, kemudian mereka *mempelajari* kekalahan tersebut untuk *memperbaiki diri*.”

**

“Kalau mas Putra? Kegagalan apa yang pernah mas Putra alami?”

Dia pun bercerita bahwa dulu, dia bekerja di Eropa, dengan gaji yang lumayan, dan tabungan yang cukup besar. Kemudian dengan beberapa temannya , mereka investasi membangun sebuah bisnis. Bisnisnya gagal total, tabungannya habis ludes. Mereka sekeluarga hidup prihatin. Kemudian dia pun melamar kerja sana sini. Setelah mencoba puluhan kali, Dia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang manager. Dia bekerja dengan keras (dan cerdas), akhirnya dia pun dipromosi berkali-kali, sampai akhirnya belasan tahun kemudian, menjadi CEO di perusahaan itu.

“Saya belajar bahwa sehebat apapun product secara teknologi, kita tetap perlu memahami pelanggan secara psikologis saat mengembangkan product, dan saat menjual ke mereka. Sekarangaya terapkan hal itu setiap hari”

**

That's the mindset of a winner. Apakah kita bermental juara? Apakah kita selalu mendorong diri kita untuk meningkatkan diri? Atau kita terus menerus berada di zona nyaman? Apa yang kita lakukan kalau gagal? Bersyukur atas kegagalan kita? Atau apakah kita menangis, meratapi nasib kita dan menyerah?

Michelangelo, pelukis pada jaman Renaissance di Eropa pernah berkata," *The danger is not when you set your goal too high and fail. The danger is when you set your goal too low and you achieve it*". Set your objective very high. And then become obsessed with your objective. Work hard and smart for it.

**

Bedanya para juara dan yang lain bukannya para juara selalu sukses dan yang lain pernah gagal. Mereka semua (termasuk para juara) pernah gagal.  Mungkin gagal di latihan atau gagal di pertandingan yang sesungguhnya. Perbedaannya hanya satu: Para juara (The winners) itu kalau gagal akan BANGKIT kembali dan mencoba lagi sampai akhirnya berhasil. Sementara yang lain (The losers) kalau gagal akan berhenti, berputus asa dan menyerah. Which one are you? The winners or the losers?By deciding if you will fight again or by giving up when you fail. Dan ternyata ini juga berlaku dalam berbagai aspek kehidupan . Olahraga, sekolah, karier, bisnis, sales, belajar sesuatu yang baru...etc.

**

Saya sendiri berkali-kali gagal. Di awal karier saya, Berapa kali saya ditolak oleh perusahaan pada saat saya melamar ke sana-sini. Tahun 1993 saya pernah gagal diterima di sebuah perusahaan, tahun 2013 mereka meminta saya menjadi Direktur di perusahaan tersebut. Ternyata yang di terima saat pada tahun 1993, belum menjadi Direktur 😊. Pada saat saya di menjadi consultant, berapa kali saya gagal menjual project saya ke calon customer saya. I was gratefull with all my failures. Kemudian saya belajar dan memperbaiki diri. Saya sangat mensyukuri kegagalan saya itu. Saya belajar dari situ. They made me much stronger. To win, you dont have to succeed with every effort you make.

You just need to train yourself to take the pain that comes as result of failures, rejection or underperformance and keep success in your sight. The faster you get up and move on, the better it will be. And you will gain the unique and invaluable talents and resources needed to keep winning and winning over the long journey for success.

**

Jadi, apa yang harus kita lakukan pada saat gagal?

1) *Terimalah bahwa kegagalan itu biasa terjadi* dan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan

**

2) Terus menerus *visualisasikan goal kita*.

Stay excited and motivated to achive your goal. Focus. Dont get distracted.

**

3) *Push through pain*.

Tahan rasa sakit dan kekecewaan dari kegagalan itu. Bersiap siaplah bahwa kegagalan berikutnya akan datang lagi. Jangan berpikir bahwa kegagalan ini adalah kegagalan terakhir. There will be more...

Just move on and focus on your goal. 

**

4) *Learn from your failures*.

Pelajari dari kegagalan itu. Apa yang kita bisa lakukan dengan cara yang berbeda. Look with different perspective, look from different angle, change the way you do things ....

Diskusilah dengan diri anda sendiri secara Terbuka: Mendiskusikan kegagalan dapat membangun kepercayaan dan menumbuhkan kreativitas serta ketahanan.

Atasi Hambatan: Identifikasi dan atasi hambatan emosional dan fisik yang mencegah pembelajaran dari kegagalan.

Tetapkan Tujuan SMART: Ubah pelajaran yang dipetik menjadi tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terbatasi waktu.

**

5) *And Keep trying*, keep walking, keep running, keep fighting, keep learning, keep training, keep working, keep smilling, keep laughing, keep singing, ignore others, until you achieve your goal.

Teruslah mencoba, teruslah berlari, teruslah berjalan, teruslah berjuang, teruslah berlatih, teruslah belajar, teruslah bekerja, teruslah tersenyum, teruslah tertawa, teruslah menyanyi, jangan hiraukan yang lain . Generate alternatives, coba berbagai cara...sampai kita mencapai tujuan kita.

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


HR 2026: Antara Disrupsi Digital, Society 5.0, dan Tuntutan Bisnis yang “Nggak Nunggu Siap”

Tahun 2026 bukan tahun ramalan.

Ia sedang lari ke arah kita sambil membawa AI, tekanan bisnis, ekspektasi karyawan, dan KPI yang makin “nggak manusiawi”.


Tapi Kalau HR masih sibuk nanya,.“HR mau jadi apa ke depan?”


Jawabannya bisa jadi sudah terlambat.

Karena bisnis tidak menunggu HR siap...bisnis menuntut HR relevan.


*1. Tantangan HR 2026: Dunia Berubah, HR Tak Boleh Baper*


Klo kita mw jujur.

Tantangan HR 2026 itu bukan cuma soal AI, digitalisasi, atau Gen Z yang katanya “baperan”.


Isu strategisnya jauh lebih kompleks, menurut saya (bisa jadi berbeda dg para omtans sekalian) :


- Tekanan efisiensi & profitabilitas bisnis.

- Disrupsi teknologi (AI, automation, data analytics).

- Perubahan nilai kerja: makna, fleksibilitas, wellbeing.

- Talent shortage di satu sisi, oversupply di sisi lain

- Tuntutan ESG, sustainability, dan organisasi yang berpusat pada manusia


Om Dave Ulrich, udah lama ngingetin:


_“HR is not about HR activities. HR is about delivering value to stakeholders.”_


Artinya jelas:

*Bahwa HR tuh ga diukur dari seberapa rapi SOP nya, tapi dari seberapa besar dampaknya ke bisnis dan manusia.*



*2. Society 5.0: Ketika Teknologi Harus Kembali ke Manusia*


Era Society 5.0 negesin satu hal penting:

teknologi bukan tujuan, tapi alat. AI boleh canggih, dashboard boleh kinclong, HRIS boleh mahal.

Tapi kalau karyawan kehilangan makna/tujuan kerja, trust, dan rasa memiliki...

organisasi tetap letoy.


jadi, HR 2026 harus mampu menjawab rada² ini:


- High-tech dan high-touch

- Data-driven dan values-driven

- Agile tanpa kehilangan keadilan & etika


Di sinilah HR diuji:

bukan sekadar operator sistem, tapi penjaga kemanusiaan organisasi.


*3. HR 2026: Dari Support Function ke Strategic Partner (Bukan Sekadar Judul di Kartu Nama)*


HR strategis itu bukan slogan LinkedIn.

Ia harus terasa nyata dalam peran berikut:


*Business Translator*

Memahami arah usaha dan menerjemahkannya ke strategi SDM


*Architect of Capability*

Mampu membangun skill yang dibutuhkan masa depan.


*Guardian of Culture & Trust*

Dapat menjaga budaya tetap hidup, bukan sekadar jargon


*Change Navigator*

Mendampingi manusia di tengah perubahan permanen


*Moral & Ethical Compass*

Memastikan bisnis tetap berkeadilan


HR tidak lagi cukup “ikut strategi”. HR harus ikut menentukan arah.


*Lalu, Apa yang Harus Dilakukan HR Menuju 2026?* 

*Dan Bagaimana Melakukannya dengan Benar?*


Bicara tantangan tanpa langkah nyata itu seperti rapat panjang tanpa notulen.

Kelihatan sibuk, tapi pulangnya bingung mau mulai dari mana.


Berikut peta jalan praktis HR 2026 yang membumi, aplikatif, dan relevan dengan realitas bisnis.


*1. Naik Kelas: Dari Administrator ke Business Thinker*


*Apa yang harus dilakukan:*


- HR wajib memahami strategi bisnis, model revenue, struktur biaya, dan risiko usaha


- HR tidak cukup paham regulasi, tapi juga logika bisnis


*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Aktif di forum bisnis, bukan hanya forum HR.

- Biasakan membaca laporan keuangan dasar.

- Terjemahkan target bisnis menjadi implikasi SDM.


_“HR must know the business as well as the people.”_ .(Dave Ulrich)



Kalau HR tidak paham bisnis, jangan heran kalau HR hanya dipanggil saat “ada masalah orang”.


*2. Bangun Kapabilitas, Bukan Sekadar Program Training*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Fokus pada _capability building_, bukan daftar pelatihan tahunan

- Tentukan skill kritikal 2–3 tahun ke depan



*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Mulai dari pertanyaan: “Skill apa yang membuat bisnis kita unggul?”


- Kombinasikan learning on the job, coaching, mentoring, dan proyek lintas fungsi


- Ukur training dari dampak ke kinerja, bukan jumlah peserta


- Training tanpa dampak bisnis itu bukan investasi, tapi biaya.


*3. Gunakan Teknologi Secara Cerdas, Bukan Sporadis*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Manfaatkan teknologi & AI untuk efisiensi dan kualitas keputusan.


- Gunakan data untuk membaca tren, risiko, dan potensi SDM


*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Mulai dari problem, bukan dari tools.

- Pastikan teknologi memudahkan kerja manusia.

- Tingkatkan literasi data praktisi HR


Society 5.0 bukan tentang mesin makin pintar,

tapi manusia makin bijak menggunakan mesin.


*4. Jadikan Budaya & Trust sebagai Aset Strategis*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Bangun budaya kerja yang adil, sehat, dan produktif


- Perkuat trust antara manajemen dan karyawan



*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Pastikan pimpinan memberi teladan, bukan sekadar pidato


- Tegakkan kebijakan secara konsisten


- Dengarkan suara karyawan secara sistematis


Budaya tidak dibangun lewat poster, tapi lewat keputusan sehari-hari.



*5. Siapkan Manusia untuk Perubahan yang Tak Pernah Berhenti*


*Apa yang harus dilakukan:*


- Tingkatkan resilience dan agility organisasi


- Bekali pimpinan menjadi change leader, bukan change blocker


*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Perkuat komunikasi perubahan.

- Dampingi karyawan menghadapi ketidakpastian.

- Seimbangkan target kinerja dan kesehatan mental


Organisasi boleh agresif, tapi manusianya jangan dikorbankan.



*6. HR sebagai Penjaga Nilai, Etika, dan Keadilan*


*Apa yang harus dilakukan:*


- HR menjadi penyeimbang kepentingan bisnis dan kemanusiaan


- Menjaga martabat manusia dalam setiap kebijakan



*Bagaimana melakukannya dengan tepat:*


- Gunakan data dan argumentasi profesional


- Berani menyampaikan risiko etis keputusan bisnis


- Teguh pada prinsip, tanpa kehilangan kebijaksanaan


HR yang diam saat nilai dilanggar, sedang menabung konflik jangka panjang.



*HR 2026 Bukan Soal Hebat, Tapi Relevan & Bermakna*


HR ke depan tidak dituntut menjadi paling pintar, tetapi paling berdampak.


Bukan yang paling banyak bicara, tetapi paling bertanggung jawab.


Dan bukan hanya menyelaraskan manusia dengan bisnis,

tetapi memastikan bisnis tetap manusiawi, adil, dan berkelanjutan.


semoga bermanfaat...🙏


coretan HR ala coaCHA

_Humanizing HR, Inspiring People_



Jadi,

HR hari ini lebih sibuk mengurus sistem...atau benar-benar jagain orang agar bisnis tetap jalan?

Apa tantangan nyatanya?


HOW FULL is YOUR GLASS? (Seberapa penuhnya gelas anda?)

Pada sebuah perjalanan dinas, saya duduk bersebelahan dengan seorang CEO sebuah perusahaan ternama di Indonesia.

Setelah berkenalan, dan berbasa basi, akhirnya pun kami mendiskusikan beberapa hal serius termasuk bisnis, leadership, HR …dll.

Menariknya beliau ternyata juga pernah menjadi HR Director, selain pernah menjadi CEO di 3 perusahaan yang berbeda. 

“Iya, di tempat saya dulu, saya harus di rotasi, dan HR adalah salah satu hal yang harus saya lakukan sebelum saya menjadi CEO.”

Perjalanan kami jadi menari, dengan diskusi di mana saya belajar banyak dari beliau.

Setelah mendarat, beliau menyempatkan berkata“Thank you. I learn a lot from you.”

Dan saya pun kaget. Bukannya dia yang ngajari saya. Lalu saya tanya,”You are the one who teach me, right?”

Dan dia menjawab,”Tapi kan pak Pam juga banyak nanya, Pak Pam juga banyak share tentang pengalaman bapak. Dan saya juga belajar banyak dari situ. That’s how you teach me!”

Wow! Saya kagum banget.

Sementara banyak di antara kita yang merasa sok tahu dan sok ngajarin orang lain. Ini seorang sosok yang pernah menjadi CEO 3 perusahaan ternama, dan bilang bahwa dia belajar dari saya, dalam perjalanan di pesawat Garuda.,

**

Tetapi apakah semakin banyak kita bertemu orang, kita pasti akan semakin pintar? Ternyata tidak tuh. Kita hanya bisa belajar dari orang lain, kalau kita memang membuka pikiran kita (being open mind). Tidak menganggap diri kita yang paling pintar. Kalau kita menganggap, bahwa (sehebat apapun diri kita), masih saja ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang lain.

Di dalam buku novel samurai Jepang “Musashi” yang saya baca waktu kecil, “Selama gelasmu penuh, kamu tidak akan bisa mengisi air lagi”

Artinya semakin kamu merasa bahwa pengetahuanmu sudah cukup (atau sudah banyak), maka  kita gak akan belajar lagi dari orang lain.

Karena ingat di atas langit masih ada langit.

Kalau anda pintar, pasti ada orang lain yang lebih pintar!

Apalagi sekarang, jaman berganti lebih cepat, pengetahuan anda akan menjadi tidak relevant di masa depan, atau malah digantikan oleh computer!

Be open mind, always learn from others.

**

Jadi apa yang bis akita lakukan?

a) MINDSET for GROWTH

Selalu berfokuslah pada masa depan, selalu berfokus pada bagaimana anda mengembangkan diri anda agar ilmu anda bertambah, kontribusi anda bertambah, tanggung jawab anda bertambah dan tentu saja penghasilan anda akan bertambah.

Jangan happy dengan ilmu anda sekarang, jangan happy dengan kontribusi anda sekarang, belajarlah dan tingkatkan ilmu dan performance anda!

**

b) EMBRACE CHALLENGES

Dalam kehidupan dan dalam bisnis kita, setiap hari kita menghadapi challenges, kadang ringan , kadang berat. Jangan menyesal, jangan bersedih. Challenge itu yang akan membuat kita naik kelas. Go for it.

Embrace the challenges! Challenge yang semakin berat akan membuat anda semakin banyak belajar dan mempersiapkan anda untuk masa depan yang semakin tidak pasti.

**

c) LEARNING MANIAC

Belajar! Belajar! Belajar!

Saya pernah bekerja di 4 perusahaan di Indonesia, dan semua CEO nya maniac belajar.

Bukan hanya suka belajar, maniac! Artinya kalau sehari aja mer ka tidak membaca buku, mereka merasa ada yang gak enak dan belum lengkap! Jadi biasanya mereka memegang buku di waktu luang, dan saya memperhatikan selalu ada buku di ruang kerja, di mobilnya dan (saya yakin pasti ada juga) di ruang tidur mereka! Sudah jadi CEO masih belajar! Kita udah CEO belom? Belom kan? Nah, mari kita belajar!!!

**

d) OPEN MIND

Orang pinter merasa bodoh dan menerima ide dan pendapat orang lain, mau belajar dari orang lain. Orang bodoh merasa paling pinter, dan gak mau mendengarkan orang lain. That’s the difference!

Which one are you? Be open mind! Terbukalah pada ide dan pendapat orang lain.

**

e) DRIVE for SUCCESS

Strategy and vision are useless without execution discipline! Jadi bermimpilah, bercita-citalah, terobsesilah dan terutama bekerja keraslah untuk mencapainya!

**

f)  YAWN with ROUTINE

Lakukan hal yang berbeda setiap hari. Bahkan untuk memecahkan masalah yang sama , coba gunakan cara yang berbeda. Orang orang yang open mind akan  bosan dengan rutinitas.

Mereka selalu belajar hal baru, ingin melakukan hal baru, ingin mencoba metode baru!

**

Saya mengingatnya menjadi MELODY:

a) MINDSET for GROWTH

b) EMBRACE CHALLENGES

c) LEARNING MANIAC

d) OPEN MIND

e) DRIVE for SUCCESS

f)  YAWN with ROUTINE

Jadi ingat, to keep your relevancy, sing your MELODY!

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


HE WHO ANGERS YOU, CONQUERS YOU

Puspita, teman saya, sebenarnya adalah seorang leader yang sangat sukses. Pada usia relative muda, dia menjadi Direktor Pengembangan Bisnis, di sebuah perusahaan besar di Indonesia (yang pendapatannya perusahaan tahunan puluhan trilyun).

Hari itu Puspita (bukan nama sebenarnya), ngajak ketemuan buat curhat.

“Mau makan apa Pit?”

“Aku lagi mau makan padang mas. Mas mau ke Marco di Pacific Place gak?”

Tadinya aku mau diet, but you don’t say no, to a woman like Puspita.

“Baiklah, anything you like, lets go…”

**

Setelah berbasa-basi, Puspita pun mulai bercerita.

“I don’t know why. Kadang-kadang sulit sekali mengontrol emosiku mas. Aku bisa bersikap menjadi ibu yang baik, leader yang care sama anak buahku, listener yang baik bagi bossku, dan teamworker yang baik bagi kolega atau peer ku. Tapi ada Director lain, yang aku gak bisa tahan. Dia selalu bisa memancing kemarahanku”

“Apa yang dia lakukan?”

“Sudut perspective nya selalu beda. Aku ngerti, dia ngomong financial, aku ngomong business development, yang belum tentu menghasilkan uang. Dia ngomong tangible result: revenue, growth, ROI, aku ngomong intangible: customer loyalty, brand awareness , company identity …etc”

“Bukankah bagus, kalau ada perbedaan persepsi?”

“Iya, tapi gaya ngomongnya itu lah, menyerang orangnya, bukan idenya. Agresif., Dia bilang karena dia lulusan amerika, dia selalu straightforward., Kan gak semua lulusan amerika begitu? Songong amat sih”

“Terus bagaimana reaksimu?”

“Kadang aku OK, kadang aku kehilangan control emosiku, dan ikut agresif.”

“Bukankah dalam coaching session yang lalu, kita agree bahwa Puspita harus selalu mengontrol emosi?”

“Iya mas, tapi aku manusia kan? Manusia ada batasnya juga…”

“And didn’t we agree that manusia juga harus meningkatkan self-controlnya setiap hari?”

“I hate you when you are right, mas! Then just tell me what to do?”

**

Kejadian yang menimpa Puspita, pasti pernah kita alami. Ada seseorang di kantor, peer, kolega, boss, kadang anak buah, yang punya kepribadian “aneh” (menurut kita). Dan membuat kita kesal, sebel, bahkan marah, sampai kadang kita menjadi agresif. TOXIC! Capek menghadapi orang seperti itu.

Tapi dunia ini akan terlalu indah kalau semua orang menjadi baik. Believe me, it would be boring and we will not learn  much! Masalahnya, harus kah kita ikut marah?

Elizabeth Kenny, seorang praktisi medis, yang terkenal dari Australia, pernah berkata,” HE WHO ANGERS YOU, CONQUERS YOU”, Siapa yang bisa membuatmu marah, berarti dia sudah mengalahkanmu!

Jangan menyerah, jangan sampai kalah sama dia! Kita harus tetap mengontrol emosi kita. Kadang memang sulit, tapi ingat kita harus in full control of our emotions.

George Bernard Shaw mengingatkan, “never wrestle with a pig. You get dirty, and besides, the pig likes it.  Jangan pernah bergulat dengan babi. Kalian  akan kotor, dan babi memang suka yang kotor.”

Kalimat di atas adalah pepatah metaforis yang menunjukkan bahwa terlibat dalam konflik dengan individu yang tidak bereputasi baik adalah sia-sia dan mengarah pada negativitas timbal balik. Pepatah ini menekankan bahwa orang yang Anda lawan akan diuntungkan dari kekacauan dan drama, sementara Anda akhirnya terlihat buruk. Kalimat itu berfungsi sebagai pengingat untuk menghindari berinteraksi dengan individu yang toxic, karena sering kali menyebabkan frustrasi dan ketidakpuasan. Secara keseluruhan, pepatah ini merangkum gagasan bahwa terkadang tindakan terbaik adalah menjauhkan diri dari individu-individu tersebut.

**

Terus apa yang perlu kita lakukan dalam situasi seperti itu?

a) Kontrol emosi, 

b) Enjoy the situation as learning opportunity

c) You have to accept the difference

d) Something positive: Temukan sesuatu yang positif terkait orang tersebut

**

a) Kontrol emosi

Ingat, selalu control emosi. Belajarlah di rumah, belajarlah di kantor. Jangan turuti emosi negative anda. Menghela nafas. Berdo’a. Atau apapun. Ingat, kalau anda kehilangan control, akan menyesal nanti. Jangan menyerah. Jangan kalah. Kalau ada seseorang yang berhasil membuat anda marah, berarti dia membuat anda kalah!

 **

b) Enjoy the situation as learning opportunity

Anggal saja ini Latihan. Anggap saja ini adalah belajar untuk menjadi orang yang lebih dewasa, dan lebih mampu mengontrol emosinya. Kalau anda punya boss yang suka marah-marah meledak, anda juga gak suka kan? Kalau anda jadi boss, dan anda yang marah marah, credibility anda akan turun juga kan? Jangan sampai menyesal. Berarti saat hal ini terjadi, santai, control emosi, anggap aja berhadapan dengan anak kecil yang lagi marah-marah. Anda tetap hormat, dan menjawab dengan sopan, sambil terus mengontrol. Semakin lama, anda melatih hal ini, lama-lama semakin mudah dan akan terbiasa.

**

c) You have to accept and embrace the difference

Orang kan memang beda-beda. Ada yang berfikirnya selalu hitam putih, benar salah. Ada yang mikirnya dengan banyak ambiguity. Ada yang suka berbicara dengan angka dan data, ada suka kata-kata yang menggugah hati. Ada yang suka menghasilkan ide ide baru. Ada yang suka langsung action and implement. Perbedaan itu adalah sesuatu yang sangat positif bagi organisasi. Jangan dibuat jadi pertentangan. Mindset kita harus diubah menjadi,”Karena idenya dia beda dengan ide saya, ini akan saling melengkapi agar implementasinya lebih baik lagi”

**  

d) Something positive: Temukan sesuatu yang positif terkait orang tersebut

“Puspita, orang yang kamu sebut tadi juga Director kan?”

“Iya Mas”

“Nah berarti, pasti dia punya quality dan personality positive, selain hal yang aneh tadi. Kalau enggak, kan gak mungkin dia jadi Director! Focus pada yang positif. Justru kami harus belajar dari dia, khusus pada hal hal positif itu. Nanti akan membuat kamu jadi jauh lebih baik lagi, dari kamu yang sekarang”

“Logis Mas, Make sense mas. Thank You, and let me pay the bill for this dinner ya?”

Mari kita melakukan hal yang sama. Menemukan hal positif dari lawan bicara kita, dan belajar dari dia.

**

Jadi inilah kunci-kunci anda untuk menghadapi orang yang toxic, the *KEYS*:

a) *Kontrol emosi*

b) *Enjoy the situation as learning opportunity*

c) *You have to accept the difference*

d) *Something positive*: Temukan sesuatu yang positif terkait orang tersebut dan pelajari

**

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto


KILL THE BOREDOM, BUILD YOUR FREEDOM


Namanya Lilian, seorang teman saya yang sekarang tinggal di Singapore bersama keluarganya.

Pagi itu, saya sempat bertelpon dan saling menyapa, setelah lama tak berjumpa.

Setelah lulus SMA di Bandung, Lilian mendapatkan beasiswa ke Perancis. Sebenarnya rombongan mahasiswa ke Perancis, waktu itu berjumlah sekitar 40-an. Mereka dibagi ke beberapa kota. Biasanya satu group sekitar 6-8 orang, kemudian mereka dikirimkan ke universitas di kota-kota yang berbeda. Ada yang ke Nantes, Nancy, Paris, Lille, Toulouse dan Rouen.

Nah, anehnya Lilian ini (bukan nama sebenarnya), dikirimkan seorang diri , pergi ke sebuah universitas di kota Marseille, di selatan Perancis.

Terbayang kan? Seorang gadis muda , berumur 17 tahun, dari Bandung, belum pernah ke luar negeri, dan tiba-tiba harus tinggal dan kuliah sendirian (selama 5 tahun) di Marseille, tanpa mengenal siapapun.

**

“Terus kamu ngapain aja, Lilian?”

“Ya aku bergaul sama temen-temen kuliah?”

“Ada orang Indonesia? Atau Asia?”

“Boro-boro! Adanya mahasiswi dari Senegal dan Ivory Coast, kami tinggal di asrama Wanita. Mau gak mau aku harus menyesuaikan diri. Aku makan makanan afrika. Bergaul sama orang afrika. Setelah beberapa tahun, aku mulai akrab bergaul juga dengan mahasiswa Perancis.”

Saya membayangkan, bahwa dia pasti kesepian dan menderita.

“Kamu gak menderita dan kesepian seorang diri?” 

“Seharusnya begitu ya? Tapi aku ini bukan lahir dari keluarga priviledged. Jadi bisa dapat beasiswa (full, tuition dan living cost), di Perancis, aku sudah bersyukur banget. Tiap hari aku mensyukuri betapa beruntungnya aku. Betapa berbahagianya aku. Sementara ada temen-temenku yang gak bisa kuliah. Atau bisa kuliah tapi dengan mereportkan orangtuanya. I don’t want that.

Jadi *rasa syukur itu menjadi energi setiap hari bagiku*”

**

Wow, saya langsung mencatat, *the feeling of gratefull is a source of energy,everyday.*

Did we do it?

Banyak dari kita yang setiap hari stress, beban pekerjaan berat, banyak masalah, kadang boss sangat demanding, kadang anak buah kita rewel, kadang ada masalah keluarga. Kadang kita bersedih.

How do you get your energy? Pernahkah kita menggunakan rasa syukur untuk menjadi sumber energi kita setiap hari? Kesedihan adalah sebuah proses kehidupan. Berharap untuk hidup tanpa sedih itu seperti berharap bahwa dunia ini hanya ada siang, gak ada malamnya, mustajab ... eh mustahil!

Apakah saya pernah sedih? Off course. Some of you may see me smilling, laughing, making jokes, conducting fun speech or training, doing magic , entertaining ...etc. But I am only a human being. Sometimes I cry (ask my wife), sometimes I am angry (ask my children) and sometimes I am stressfull too (ask my team). And to all of them I said,”I am sorry, I am only a human being!”

Jadi jangan malu kalau bersedih, jangan malu kalau menangis, jangan malu kalau stress, karena kita semua adalah manusia biasa! Tentu saja jangan sedih berkepanjangan, nanti anda tidak semangat lagi untuk hidup. Jangan menangis berkepanjangan , nanti mata anda bengkak (nobody look pretty kalau matanya bengkak).

Dan jangan stress berkepanjangan, anda harus segera bangun lagi dan menjemput opprtunity berikutnya. How to do it? Dengan bersyukur, seperti Lilian, membunuh kebosanannya (tinggal sendirian selama lima tahun di Marseille) dan membangun kebebasannya (sampai akhirnya lulus cemerlang setelah lima tahun, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan bagus dengan gaji yang tinggi).

*Kill your boredom, build your freedom.*

**

Apa yang kita bisa lakukan

a) *Tuliskan 10 blessing anda*

Kemudian anda ambil satu lembar kertas lain. Dan anda tuliskan 10 blessing yang anda punya, 10 hal yang anda harus syukuri dalam hidup ini.

- Saya masih sehat. - Saya masih bisa makan dengan nikmat. - Saya mempunya tubuh dengan anggota badan yang lengkap tanpa cacat. - Saya masih mempunyai keluarga yang sangat menyayangi saya ....- Saya masih mempunyai pekerjaan - Saya masih mempunyai gaji setiap bulan. etc ...etc ...

Tuliskan semuanya.  Karena terkadang kita lupa bahwa hidup kita penuh blessing. Padahal semuanya tergantung cara kita memandang hidup. Zidenine Zidane (juara dunia sepakbola) pernah  berkata,”Waktu saya kecil dan miskin, saya bersedih karena saya tidak punya sepatu untuk sepakbola. Kemudian saya melihat sesorang yang tidak mempunyai kaki”

Lihat betapa dia tadinya bersedih, dan hanya karena dia mengubah paradigma (caranya memandang kehidupan), dia langsung menghapus kesedihannya. *IT IS IN YOUR MIND!(

**

b) *Bersyukurlah bahwa masih lebih banyak blessing anda dibandingkan dengan kesedihan anda*

Nah, sekarang anda menghitung. Anda punya 10  blessing. Anda punya satu kesedihan. Berapa skor kebahagiaan anda? 9 ? Sembilan! This is a very good score! Kalau anda dulu di sekolah dapet nilai 9 (maximumnya 10 ya), anda senang atau enggak? Pasti senang! Kalaupun masalah atau kesedihan anda ada 3, score kita masih 7. You should be happy about it.

Lagian anda sedang menjalani kehidupan. Siapa yang mengontrol kehidupan anda? Yang Maha Kuasa kan? Apakah anda berani memaksa-Nya untuk selalu memberikan angka 10 (perfect happiness!). Dont be greedy! Ingat saat Zinedine Zidane tidak punya sepatu dan melihat orang yang tidak punya kaki? Bersyukurlah!

**

c) *Do something NEW, distract yourself, missdirect yourself*

Ok, setelah anda bersyukur, sekarang lakukan sesuatu yang baru, untuk mengalihkan perhatian anda, untuk menggantikan fokus pikiran anda dengan yang lain, untuk melupakan masa lalu dengan hal lain yang lebih positive!

Usaha anda bangkrut? Coba belajar hidrophonic!

Coba belajar menulis buku (“10 jebakan yang harus anda hidari pada saat anda merintis usaha anda”)!

Coba memulai olahraga baru!Coba memulai hobby baru! 

Anda di-PHK? Dengan pesangonnya kenapa anda tidak kuliah lagi, MBA atau Master of Finance! Coba keliling Indonesia dan mencari business opportunity baru! Whatever that will make you fresh in the morning and want to do something new!

**

d) *Get up, let go the past, move on with your life!*

Ok, sekarang semangat anda sudah naik, keep it up. 

Your life will not improve by crying about your past. Your life will improe because you continuously have fun with today and build your fondation for your future .

Hidup anda tidak akan menjadi lebih baik karena anda menangisi masa lalu.

Hidup anda akan menjadi lebih baik karena anda terus menerus menikmati hari ini dan menyiapkan fondasi yang kuat untuk masa depan anda! But seriously it means you need to forget the past, enjoy the present and continuously prepare for the future.

Ibaratnya hidup anda adalah naik bus (TransJakarta), setiap kali bus anda berhenti di sebuah halte, tinggalkan beban (dan kesedihan) masa lalu anda di halte itu, dan berangkatlah tanpa beban apapun melaniutkan perjalanan anda menuju halte-halte berikutnya.

Jadi ingat ya, untuk menghapus kesedihan anda, jangan lupa menghitung blessing anda.

Dan ingat , kill your boredom, build your freedom, dengan menggunakan rasa syukur sebagai sumber energi anda, setiap hari!

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto