THE DEATH OF BLACKBERRY
Minggu lalu, saya dan teman-teman alumni ITB yang tinggal di Bogor, kumpul-kumpul sambil ngobrol-ngobrol di daerah Taman Yasmin. Kami sekitar belasan orang. Menarik juga, bercanda, diskusi sambil minum kopi dan makanan ringan.
Tiba-tiba ada nyeletuk,”Dulu kita semua masih pakai Blackberry ya, waktu itu terasa keren banget.”
Dan memang itu benar. Tahun 2009, saya dan keluarga pindah dari Beijing ke Jakarta. Dan waktu itu kami seperti “Alien” yang mendarat dari planet lain, ke planet Bumi. Tiba-tiba semua orang, teman, keluarga, kolega, semua bertanya,”BB PIN nya berapa pak?”
Dan saya dan istri saya melongo. Kami tidak punya Blackberry. Dan itu seperti dianggap hal yang aneh.
Lebih parah lagi, di rumah kakak ipar, saya pinjam charger handphone. Dia bilang,”Oh handphone itu, bukan Blackberry. Sebentar ya, kayaknya pembantu rumah tangga kami masih pakai handphone biasa juga.”
**
Tentu saja, saya harus menyesuaikan diri, dan tidak lama kemudian menggunakan Blackberry. Waktu itu memang Blackberry hebat sekali. Perusahaan Kanada, RIM (research in motion) yang dirintis Mike Lazaridis and Douglas Fregin.
Waktu itu kita familiar dengan tipe-tipe seperti 8520 (Gemini), 9000 (Bold), Torch, Bellagio, Dakota … dan lain-lain. Blackberry sangat sukses, karena dirancang oleh dua computer engineer, dengan focus pada security. Maka informasi di dalamnya pun sangat aman, dan tidak bisa dibuka atau di-hack oleh yang lain, selain penggunanya. Tentu saja ini disukai oleh perusahaan-perusahaan yang sangat mengutamakan security of information.
Nokia yang tadinya meremehkan mereka, karena pengguna Blackberry hanya pengguna corporate, akhirnya harus menelan pil pahit. Serelah pengguna corporate, lama-lama pengguna pribadi juga sangat menyukainya. Saya belum mengerti mengapa bapak-bapak ingin informasinya “secured” dari istri-istri mereka, tapi ya sudahlah, itu urusan mereka.
Lama-lama market share Nokia turun drastic dihajar Blackberry. Dan Blackberry menuai kesuksesan mereka selama beberapa tahun. Mereka menjadi salah satu market leader pada tahun 2010-an.
**
Sayangnya, tiada yang kekal dan abadi di dunia ini. Siang berganti malam, malam berganti siang. Kesuksesan masa lalu sama sekali tidak menjamin kesuksesan di masa depan. Pada tahun 2015, market share itu mendekati NOL persen. Dan Blackberry pun bangkrupt (bahasa Inggrisnya), bangkrut atau tutup (bahasa Indonesianya), dan KUKUT (bahasa Jawa). Sayang sekali kejayaan itu tidak bertahan lama.
Apa yang terjadi? Mengapa mereka bisa tutup dengan product sehebat itu?
Pada tahun-tahun itu , saya berpindah karier dari sebuah perusahaan yang memproduksi HandPhone ke perusahaan yang menjadi operator telekomunikasi (market leader di Indonesia). Jadi saya bisa dengan obyektif menganalisa. Ternyata ada 3 faktor yang membuat mereka jatuh.
1) *Slow adapt to Technology*
Ternyata Blackberry begitu bangga pada technology mereka (messaging, security, corporate services), yang membuat mereka unggul di awal, tapi ternyata setelah itu mereka lambat dalam mengembangkan upgrade dan update teknologi berikutnya. Misalnya tentang feature touch-screen, yang mereka lambat dibandingkan dengan competitor. Akibatnya pelan-pelan pelanggan meninggalkan Blackberry.
**
2) *Neglect consumer market*
Blackberry begitu focus pada Corporate services, dan mengabaikan consumer market (pelanggan pelanggan pribadi). Kompetitor mereka datang dengan product yang lebih menarik buat para pelanggan, dan akibatnya pelan pelan mereka meninggalkan, dan akhirnya pelanggan corporate pun mulai berpaling.
**
3) *Limited Applications ecosystem*
Lama kelamaan, pelanggan tidak hanya membutuhkan messaging, tetapi juga aplikasi yang lain, music, podcast, internet browsing, search engine, meeting/scheduling dan lain-lain. Kejatuhan Blackberry semakin parah, saat competitor menawarkan apps-apps tersebut dengan cepat, saat mereka belum siap.
**
Kasus Blackberry membuat kita belajar. Begitu banyak perusahaan yang menjadi No.1 tapi kemudian lengah dan akhirnya binasa. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi perusahaan perusahaan yang sekarang menjadi No. 1.
Terus bagaimana dong? Intinya adalah....*Become No. 1, but behave like No. 2*
Harus tetap selalu semangat dan competitive setiap hari!
Kalau di depan anda tidak ada competitor (karena anda sudah menjadi No. 1), ciptakan musuh bayangan di depan anda. Your enemy will be yourself. Selalu bandingkan performance anda tahun ini dengan performance anda tahun lalu. Perbesar growth anda dari tahun ke tahun
**
Terus secara kongkrit, apa yang kita bisa lakukan bersama dengan tim kita di perusahaan.
a) *Focus on your customers*
Selalu amati apa yang customer anda lakukan. Siap siap berinovasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ingat, sebenarnya Blackberry tidak pernah kalah dari competitor mereka. Tapi mereka gagal mengantisipasi bahwa customer tidak hanya memerlukan messaging services, mereka memerlukan begitu banyak apps lain.
Look, watch, observe and analyze your customer.
Tidak boleh lengah, selalu amati mereka, dan berikan apa yang terbaik (dan paling relevant) untuk mereka.
**
b) *Be paranoid, scare yourself, scare your team*
Memang enak kalau kita menjadi pemenang. Masalahnya bisnis kita ini bukan seperti lari 100 meter (sprint). Bisnis kita ini bisa diibaratkan seperti marathon.Perlombaan lari yang sangat panjang. Memerlukan stamina yang tinggi. Competitor anda akan selalu bersiap siap untuk mengejar dan menyalip anda. Scare yourself. Scare your team. Wake up. Send the sense of urgency.
**
c) *Build a challenger mindset*
Bersikaplah seperti nomor dua atau tiga. Kalau perlu undang mereka yang sedang menjadi challenger di industry lain dan tanyakan apa saja yang mereka lakukan agar competitive. Undang juga seorang market leader yang lama berada di posisi puncak di Industri lain dan tanyakan bagaimana mereka mempertahankan diri sekian lama.
**
Remember, in the end of the day, you have to be No. 1, and behave like No.2, it will help you to stay as No.1
**
Salam Hangat,
Pambudi Sunarsihanto

