HOW DO YOU LEARN?

 

(Rules of 5 X 5)

**

Dalam diskusi hari itu di "Pierre", jalan Senopati, seorang teman saya (Nisa), dengan bangganya menyebutkan kekayaan bahasa Indonesia.

“Kalau orang Inggris, kan Cuma punya satu kata untuk menyebut RICE kan Mas? Orang Indonesia punya banyak kata untuk RICE mas. Padi, Gabah, beras, Nasi, bubur, Ketupat, Lontong, bacang, Arem-arem, Lemang, tepo dan lain-lain. Bahasa kita kaya kan Mas? Kita harus bangga kan?” katanya sambil tersenyum, saat makan “Filet Mignon”. Lucu juga, dia begitu bangga dengan bahasa Indonesia, tapi hari itu sambil minta di-coaching, nraktir saya Filet Mignon di “Pierre”😊

**

Dan itulah menariknya bahasa. Orang Eskimo berbicara bahasa Inuit. Dan mereka mempunyai 20 kata untuk menyebutkan salju: qanik = salju yg lagi turun dari langit, aput = salju yang sudah ngumpul di tanah, pukak = lapisan salju kristal keras di bawah salju barusastrugi = salju yang kebentuk ombak gara-gara angin kencang, aqilokoq = salju yangg turun pelan-pelan, dan lain sebagainya. Mengapa ada 20 kata untuk salju. Mereka butuh detail karena salju itu penting. Beda jenis salju = beda cara jalan, berburu, bikin rumah. Ternyata banyaknya kata untuk menggambarkan sesuatu menggambarkan pentingnya kata itu untuk sebuah bangsa atau peradaban.

Berarti kata salju penting bagi orang Eskimo dan kata nasi penting bagi orang Indonesia.

**

Sekarang kita lihat kata “SCIENCE”, dalam bahasa Indonesia. Ternyata dalam bahasa Indonesia, science itu adalah ILMU. Dan itu juga bukan kata asli bahasa Indonesia. Ternyata itu dari bahasa Arab, “ILM”, Tulisannya: → 'Ain - Lam – Mim. Bentuk dasarnya = 'ilm → artinya "pengetahuan, ilmu, understanding". Artinya orang Indonesia pun tidak punya satu kata asli dalam bahasa kita untuk menyebut “ilmu”.

**

Kalau orang Eskimo punya 52 kata untuk menyebut salju, karena salju itu penting. Orang Indonesia punya 12 kata untuk menyebut nasi, karena nasi penting. 


Coba kita perhatikan kata science dalam bahasa Inggris, yang ternyata dalam bahasa Indonesia adalah ilmu, dan ternyata lmu bukan kata asli Bahasa Indonesia tetapi kata aslinya berasal dari bahasa Arab. Sayangnya tidak ada satu katapun untuk menyebut kata science atau ilmu. (ini fakta!). Mungkin karena dianggap tidak penting. Mungkin karena itu riset dan ilmu pengetahuan kita kurang maju dibandingkan dengan yang lain.

Fakta lain adalah pada saat orang-orang Indonesia, bepergian ke tempat keramaian, kita pergi mencari makanan (seringkali nasi), mungkin mencari pakaian, tetapi sedikit sekali yang mencari buku (atau ilmu pengetahuan). Padahal saya dan anak anak saya masih sering jalan-jalan, dan mengunjungi toko buku di Seoul, Lisbon, New York, Helsinki dan kota-kota lain. Sayangnya jumlah toko buku Indonesia berkurang, yang ada pun kecil-kecil. Menyedihkan ? Iya!

**

Tetapi kita tetap harus optimis. Kita harus mengejar ketinggalan. Kita tetap harus terus menerus belajar. Karena dunia yang makin tidak pasti, dan terus menerus berubah. Menambah ILMU kita, bersiap menghadapi perubahan. Build your agility. Salah satunya dengan membaca buku. Tetapi kalau satu satunya cara anda belajar adalah dengan membaca buku, anda juga akan ketinggalan. Ingat banyak buku yang diterbitkan lima tahun yang lalu, berdasarkan penelitian yang dilakukan 10 tahun yang lalu, oleh pengarang yang lulus kuliah 20 tahun yang lalu. Informasi berubah begitu cepat, berarti anda tetap harus membaca buku, dan anda juga harus melengkapi learning anda dengan cara cara lain.

**

Apa saja yang bisa kita lakukan? Ikuti beberapa tips di bawah ini:

1. Find 5 experts in your field, reach-out to them

Di bidang apapun anda bekerja (Marketing, Sales, HR, Logistic , asuransi atau apapun), carilah lima expert yang paling terkenal dalam bidang itu. Kenalan sama mereka, ikuti blog mereka, ikuti seminar mereka, beli buku mereka. Learn everything about them. Learn from them Mereka sudah sukses di bidang anda, berarti mereka sudah melakukan langkah langkah yang tepat. Pelajari mereka, tiru apa yang mereka lakukan, adaptasikan atau perbaiki bila perlu.

**

2. Read 5 leading books in your field

Baca lima textbook yang paling terkenal dalam bidang yang anda tekuni . Catat topik yang paling relevan dengan apa yang sedang anda hadapi di pekerjaan. Coba terapkan metode itu dan pelajari hasilnya. Share pengalaman itu dengan yang lain.

**

3. Attend 5 trainings, seminars or workshop every year

Jangan menjadi katak di bawah tempurung. Ambil cuti kantor. Minimal dalam setahun ikutilah 5 training, seminar atau workshop dalam bidang yang anda tekuni. Kalau di antara pembaca saya ada yang nanya," Pak, tapi budget training di kantor kami terbatas pak". Saya akan bilang,"Sometimes you have to pay it by yourself!". Ini untuk karier anda sendiri! Jangan hanya berharap pada kantor untuk mbayarin pengembangan karier anda. Kalau dibayarin kantor, bagus ! Kalau enggak ya bayar sendiri. Tahun 2002 saya pernah ambil kuliah MBA dan saya bayar sendiri puluhan ribu USD (saya kredit dan nyicil bertahun tahun). Itu adalah investasi terbaik dalam hidup saya! ROI nya besar, dan masih terasa sampai sekarang. Ingat! "Apa yang anda investasikan di otak anda, hasilnya akan tumbuh di didompet anda" When you invest in your brain, you will get the result in your wallet in the future!

**

4. Join 5 communities in your field

Dunia berubah begitu cepat, banyak sekali best practice yang kita bisa pelajari. Ikutlah community (yang bertemu regular ataupun menggunakan social media), ikutlah lima community. Saya tahu banyak yang ikut WA group temen-temen SD, SMP, SMA, universitas, temen temen bekas kantor lama, RT/RW , keluarga besar dan sepupu, wadhuh banyak amat groupnya? mendingan ikut community profesi anda yang jelas jelas anda akan belajar banyak di situ dan menambah market value anda. Share your experiences there and learn from others (the professionals who work in the same field).

**

5. Write 1 article every 5 days: keep it or publish-it!

Nah, dengan melakukan langkah langkah di atas anda sudah belajar banyak kan? Now it is time go share.

Tulislah satu artikel setiap lima hari. Apapun yang kita baca, atau kita pelajari di seminar , atau dari expert yang kita tahu, atau apa yang kita lakukan di kantor. Selalu ada yang pelajari. Tulis 1 halaman, 2 halaman atau 3 halaman, terserah. Kalau kita belum percaya diri, simpan dulu untuk diri sendiri. Kalau cukup percaya diri, Taruh di Facebook, :LinkedIn atau Instagram anda. Daripada tiap hari upload foto kuliner , debat politik di sosmed atau komplain tentang harga kebutuhan hidup yang naik, mendingan kita menyebarkan aura positif dengan menuliskan sedikit artikel sharing tentang pengetahuan atau pengalaman anda. Minimal anda bisa sharing tentang ringkasan satu bab di buku yang anda baca.

Percayalah, dengan menulis dan sharing, ilmu anda akan bertambah! Dan menbuat anda bersemangat untuk belajar lagi!


**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto


Project di kebun sawit


 


BE A LEADER, BEHAVE LIKE A CHALLENGER


(JADILAH Market Leader, TAPI BERTINDAKLAH SEPERTI seoang competitor)

**

Piala Dunia Sepakbola baru saja dimulai. Siap-siap, bapak-bapak dan para pecinta bola, akan begadang lagi. Entah kenapa, pertandingan-pertandingan yang menegangkan dijadwalkan mulai sekitar jam 2 atau jam 3 pagi.

Ada beberapa fenomena yang menarik ….

a) Brazil ditahan seri Maroko, kesebelasan yang dulu tidak diperhitungkan sama sekali, tapi sekarang menjadi kesebelasan rangking 7 terbaik di dunia

b) Perancis dikalahkan Pantai Gading 2-1, di pertandingan persahabatan, sebelum mulai Piala Dunia (bayangkan Perancis yang mantan juara dunia 2018, dan mantan runner up 2022, dikalahkan).

C) Spanyol ditahan seri Cape Verde (negara berpenduduk 500 ribu yang baru pertama Kali ikut Piala dunia. Jumlah penduduk nya lebih sedikit daripada Kabupaten Magetan).


Tapi ada 1 fakta yang lebih fatal. Italia (negara yang menjadi juara dunia 4 kali), gagal masuk Piala dunia, kalah di babak qualification, tiga kali berturut-turut. Bayangkan, Raksasa sepakbola dunia (masa lalu) tidak ikut piala dunia sejak tahun 2018. Terakhir kali mereka ikut piala dunia adalah tahun 2014. (Wajar kalau jumlah shio astrologi Cina ada 12. Kalau sudah 12 tahun gak ikut piala dunia, Italia sudah kenyang dimaki-maki sebagai shio Monyet, Ular, Anjing, Babi …dan lain lain). Menyakitkan sekali

Ini membuat kita menyadari bahwa kejayaan masa lalu tidak bisa menjamin kesuksesan di masa depan.

Sama seperti di bisnis, perusahaannya sekarang sedang sedang sukses dan profitable, belum tentu akan terus berjaya di masa depan.

**

Beberapa perusahaan tenggelam dalam kesusksesannya, beberapa tim sama sekali tidak competitive lagi, Bahkan cenderung malas, hanya meneruskan business as usual, hanya menjalankan order taking, dan tidak berinovasi lagi (product, process, cara penjualan ...dll). Seolah-olah mereka menjadi “UNTOUCHABLE”. Padahal mereka adalah market leader seharusnya mereka harus tetap "lapar", tetap competitive dan terus menerus berinovasi. Sering kali jarak market share antara mereka dengan competitor mereka makin lama makin tipis.Dan kalau ini dibiarkan, lama lama competitor bisa menyalip kita. Yang secara jangka pendek kelihatannya OK, tapi di jangka panjang kelihatannya beresiko sekali.

**

Kita mengenal namanya "champion syndrome". Kalau kita sedang di posisi kedua atau ketiga hidup kita semangat. Karena tiap kali kita bangun pagi, kita datang ke kantor dengan semangat untuk mengalahkan juara bertahan. Kita selalu terobsesi dan melihat ke depan. Lha kalau kita jadi Juara 1 gimana? Di depan kita gak ada siapa siapa. Kita mau.melihat kompetitor, mereka ada di belakang kita. Nanti jatuh kalau berlari ke depan tapi terlalu banyak melihat ke depan. Padahal menjadi no. 1 sekarang bukan jaminan akan selalu sukses di masa depan. Begitu banyak perusahaan yang menjadi No.1 tapi kemudian lengah dan akhirnya binasa. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi perusahaan perusahaan yang sekarang sedang berjaya.

**

Terus bagaimana dong? Intinya adalah....

• Become No. 1, but behave like No. 2. Jadilah market leader. Tapi bertindaklah seperti competitor. Jadilah organisasi yang sukses, tapi tetap harus lapar, agresif, inovative dan competitive, everyday.

• Kalau di depan anda tidak ada competitor (karena anda sudah menjadi No. 1), ciptakan musuh bayangan di depan anda.

Your enemy will be yourself.

• Selalu bandingkan performance anda tahun ini dengan performance anda tahun lalu.

Perbesar growth anda dari tahun ke tahun.

**

Terus secara kongkrit, apa yang kita bisa lakukan bersama dengan tim kita di perusahaan.

1. Focus on your customers

Selalu amati apa yang customer anda lakukan. Siao siap berinovasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Look, watch, observe and analyze your customer. Tidak boleh lengah, selalu amati mereka, dan berikan apa yang terbaik (dan paling relevant) untuk mereka.

**

2. Be paranoid, scare yourself, scare your team

Memang enak kalau kita menjadi pemenang. Masalahnya bisnis kita ini bukan seperti lari 100 meter (sprint). Bisnis kita ini bisa diibaratkan seperti marathon.

Perlombaan lari yang sangat panjang.

Memerlukan stamina yang tinggi.

Competitor anda akan selalu bersiap siap untuk mengejar dan menyalip anda.

Scare yourself. Scare your team. Wake up. Send the sense of urgency.

**

3. Build a challenger mindset

Bersikaplah seperti nomor dua atau tiga

Kalau perlu undang mereka yang sedang menjadi challenger di industry lain dan tanyakan apa saja yang mereka lakukan agar competitive.

Undang juga seorang market leader yang lama berada di posisi puncak di Industri lain dan tanyakan bagaimana mereka mempertahankan diri sekian lama.

**

4. Make a plan to improve your organization or your team. Every year, every quarter, every month, every week.

Co-create a plan untuk melakukan perbaikan bersama dan kita.

**

5. Implement your plan with strong execution discipline

Setelah plan, sekarang waktunya untuk mengeksekusi plan anda dengan disiplin.

Monitor the progress, follow up and act accordingly.

6. Reward your "most competitive" team members

Jangan lupa untuk menghargai mereka yang competitive (mereka ini yang paling lapar dan menghormati rule of the game).

Hargai mereka, reward mereka. Dan gunakan mereka sebagai contoh bagi yang lain.

Use them as your change agent.

Jadi ingat ya .... to continuously stay in top position, you have to behave like No. 2.

Dan inilah yang bisa dilakukan ...

**

Remember, in the end of the day, you have to be No. 1, and by behaving like No.2 or No.3, it will help you to stay on top.


Salam Hangat,


Pambudi Sunarsihanto



ACCELERATING YOUR CAREER DEVELOPMENT


Namanya Jihan, dia adalah salah satu mentee saya. Jihan bekerja sebagai Sales Manager di sebuah perusahaan teknologi besar dari Eropa. Jihan cerdas, penuh percaya diri dan sangat ambisius. Dia pernah sekolah di Australia, dan pernah bekerja di Singapore dan Australia, dan sekarang di usianya yang masih muda, dia sudah mendapatkan 2-3 kali promosi. Saya kagum pada Jihan yang mempunyi prestasi sebagus itu dan masih mampu juggling dengan kehidupan keluarga dengan kedua anaknya yang lucu-lucu (dia pernah menunjukkan foto mereka ke saya di sela sela mentoring session kami). Hari itu kami melakukan diskusi kami di sebuah restoran di Pondok Indah Mall.

**

Dan di tengah tengah diskusi tiba tiba Jihan bertanya,"Mas Pam, apa yang saya bisa lakukan lagi untuk mempercepat progresi karier saya. Apa yang harus saya lakukan?". 

Sebenarnya, untuk mempercepat kariernya, Jihan juga harus mengerti beberapa aspek dari business itu sendiri. Jihan memang jago di sales, pertanyaannya apakah Jihan mengerti masalah finance, HR dan bahkan operational aspects. Jangan sampai karena tidak mengerti Finance, Jihan mengejar angka sales, tapi sebenarnya lupa memperhatikan cash-flow perusahaan. Atau jangan sampai karena Jihan tidak mengerti masalah HR atau people management, nanti dia sangat agressive mengejar business objectivenya dan ternyata karyawannya yang bagus bagus malah kabur semua karena merasa diexploitasi. ntinya jangan sampai Jihan merasa bahwa karena performance nya yang sangat hebat dalam  bidang sales, membuat dia merasa bahwa dia akan terus menerus dipromosi ke level yang lebih atas. (What got you here won’t get you there).

**

Apa yang dia perlu lakukan?

1. Define your career aspirations

Apapun yang anda lakukan saat ini coba pikirkan sejenak, sebenarnya suatu saat nanti anda ingin menjadi apa? CEO? Direktur Keuangan? Direktur HR? Atau ingin menjadi konsultan? Atau ingin menjadi enterprenneur? Gantungkan cita cita anda tinggi tinggi di langit. Ingat , yang bahaya itu bukannya punya cita cita tinggi dan tidak tercapai. Yang bahaya itu adalah punya cita cita rendah dan tercapai.

**

2. Define your career path

Nah, mungkin anda gak bisa melangkah langsung dari posisi anda sekarang ke posisi anda berikutnya.

Tetapi anda bisa menggambar the perjalanan anda dari posisi anda sekarang , ke posisi anda berikutnya, ke posisi berikutnya lagi sampai akhirnya menjadi posisi yang diinginkan. Selama anda membuat plan, merencanakan dan kemudian mengimplementasikan plan itu dengan disiplin anda pasti akan mampu mencapai cita cita anda.

**

3. Define what is the job (role) that you aim in 2-3 years

Nah sekarang lihatlah dulu, apa yang ada di depan mata, 2-3 tahun lagi. Posisi apa yang anda tuju (yang akan membawa anda lebih dekat ke posisi yang akhirnya anda cita citakan). Ingat posisi anda 2-3 tahun lagi bisa berarti promosi (satu level di atas anda), atau mungkin lateral (posisi lain, levelnya sama tetapi pada function atau depatemen yang berbeda). Misalnya dari seorang IT Manager menjadi seorang Finance manager. Kenapa ? Karena mungkin untuk menjadi seorang CEO (pada akhirnya) anda memerlukan competence dalam hal finance. Dan itu akan lebih cepat anda dapatkan kalau anda mengerjakan tugasnya (dan  bukan hanya sekedar belajar teori dari buku). Terus bagaimana caranya kalau seorang IT manager  bisa menjadi finance manager? Sabar ... sabar, akan diterangkan di steps steps berikutnya.

**

4. Define the competence requirement for that job

Nah sekarang waktunya nanya ke seseorang yang sekarang sudah menempati posisi tersebut (atau ke HR). Tanyain apa saja sih 5-6 competences yang dibutuhkan supaya seseorang bisa perform pada posisi itu. Misalnya (- leadership, - financial understanding,- business acumen,- customer relationship management,- project management,- product knowledge,- managing innovations ... etc). Pilih 5 atau 6 aja yang paling penting

**

5. Identify your competence gap

Nah sekarang analisa competence anda sendiri. Idealnya ada beberapa kompetensi yang anda sudah ready. Dan ada beberapa kompetensi yang anda masih belum menguasai. Nah, Idealnya anda punya 2-3 gaps. Kalau gaps nya kebanyakan, ganti posisi lain. Berarti anda tidak akan siap menuju ke posisi itu dalam 2-3 tahun lagi. Kalau anda gak punya competence gap, berarti anda sudah menguasai semuanya, ya buat apa anda ke posisi itu? Anda gak akan banyak belajar kan? Ganti , cari posisi yang anda masih punya 2-3 gaps yang anda akan bisa kembangkan dalam 2-3 tahun ke depan.

**

6. Develop your competence

Nah, setelah ketahuan competence gaps nya berarti anda sudah bisa mulai mengembangkan diri, belajar untuk menutup gaps tersebut. Caranya bagaimana?

a) Belajar teori

dengan membaca buku dan mengikuti training. (Please , jangan bilang perusahaan saya tidak menyediakan bukunya atau trainingnya). Ini karier anda sendiri, nanti kalau dipromosikan gajinya ya anda  nikmati sendiri, berarti kadang-kadang, kalau harus beli buku atau ikut training, ya anda harus bayar dengan uang anda sendiri!

b) Belajar dari orang lain (coach)

Cari orang yang sudah menguasai bidang kompetensi yang ingin anda pelajari. Fokus sediakan waktu untuk belajar dari dia. Bilang terus terang , anda ingin mempelajari bidang itu dari dia. Tanyakan kalau ada hal hal yang anda juga bisa bantu untuk dia. Remember it is about take and give!

c) Volunteer to do extra work

Next, setelah anda cukup belajar sudah waktunya mempraktekkan pengetahuan anda kan. You have to learn by doing it! Berarti tanyakan ke department terkait , adakah project project yang anda bisa kerjakan.  Win win solution kan? Mereka dapet kerjaan gratisnya. Anda dapet ilmu dan pengalamannya.

By the way, you have to do this extra work, additionally to your current work .... Apa yang selalu saya  bilang, kalau ingin lebih sukses dari yang lain, anda memang harus bekerja lebih keras daripada yang lain. Life is simple!

**

7) Develop your network

Nah, terakhir jangan lupa membina jaringan, networking dan hubungan baik dengan semua orang. Often it is not about your knowledge and experience, it is not about what do you know. But it is about who do you know in your network reach. Develop your network supaya orang orang tahu siapa anda, performance anda, potensi anda, strength anda, agar pada saat ada posisi yang tepat, mereka mencari dan memanggil anda!

**

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


FACING THE UNCERTAINTY

 

**

Hari Sabtu malam, di dalam mobil saya, di antara hujan rintik-rintik di Jakarta, seorang teman saya menelpon. Sebut saja namanya Melanie (saya memanggilnya Mel).

“Mas Pam mau ke mana?”

“Mau ke café di Jakarta, nonton bareng Final Liga Champion Eropa bersama teman-teman.”

Mel yang tidak tahu sepakbola (tidak tahu apa bedanya off-side dan corder), bertanya,”Siapa yang main Mas? ”. Waduh, Mel ternyata tidak update sama sekali.

“Mel! Kamu sudah berapa lama, gak baca berita bola?”

“Mungkin 10 tahun lalu! Jadi siapa yang masuk final mas?”

“Paris Saint Germain lawan Arsenal.”

“Whattttt…. Paris Saint Germain itu nama club bola? Bukannya nama Café di Paris?”

Dan club yang dulunya tak dikenal itu, akhirnya meraih gelar Juara Champions League dua kali berturut, setelah menang lewat adu penalty.

**

Dan itulah dunia saat ini. Betapa cepatnya dunia berubah. Club-club besar di masa lalu bisa saja tenggelam. Club baru seperti PSG jadi Juara Liga Champion Eropa .

“Kenapa begitu Mas?”. Saya menjawab, “Dunia berubah begitu cepat.”

Bukan hanya di sepakbola, dalam politik, dalam bisnis juga. Zaman berubah, perilaku pelanggan berubah, peta politik global berubah, bisnis pun harus berubah. Pada saat kita pikir kitaberlayar di laut tenang, ternyata badai dan topan menerpa, siap merobek layar kita. JC Penney di Amerika ditinggalkan pelanggannya. Pada saat Manchester United ditingalkan Alex Fergusson, mereka tak pernah jadi juara lagi. Pada saat Totenham Spurs, dulunya jaya di papan atas, mereka terpuruk ke ranking bawah dan hampir terdepak dari Premier League. Saat Nokia sedang lengah, ternyata pelanggan beralih ke iPhone. Saat Kodak sedang menikmati keuntungan, ternyata orang tidak mencetak foto lagi. Perusahaan yang memperoduksi minuman bersoda dan bergula, banyak yang sadar pentingnya gaya hidup sehat. I can go on and on... dan semuanya mengalami krisis yang sama. Yang tadinya ada di atas, akan turun (seperti perusahaan-perusaahaan di atas, dan club-club bola jaman dulu). Mereka hanya bisa bangkit kalau bekerja keras dan cerdas. Nama-nama baru yang dulunya tidak terdengar (seperti club bola Paris Sain Germain, mobil BYD, TicToc, Temu, Mixue, Lukin ) sekarang menjadi market leader dan merajai dunia. Jangan berpikir bahwa fenomena ini hanya ada di perusahaan kita atau di industri yang kita geluti. This phenomena is everywhere. Attacking your company. Attacking your industry. Attacking your country. So, be prepared!

**

Kompetitor sudah bersiap-siap dan mengintai setiap kali. Siap dengan jurus-jurus barunya untuk menarik pelangganpelangga kita. Bila tidak waspada dan tidak berubah, nasib kita akan segera mengikuti Kodak, Sony Walkman, Nokia, Blackberry, JC Penney, dan lain lain. Di sinilah pemahaman

kelakuan pelanggan (consumer behavior) menjadi penting. Mengerti perilaku, memahami tren, dan melakukan penyesuaian strategi bisnis (accordingly) adalah satu-satunyakunci untuk sukses kita di masa depan. Semua hal di atas memang mudah dikatakan, tapi susah dilakukan (easier said than done). Menurut John Kotter, hanya 30% dari semua program transformasi organisasi yang pernah berhasil. Ada banyak faktor yang membuat sebuah organisasi harus berubah, internal dan eksternal. Secara internal, bisa saja terjadi perubahan kepemimpinan, perubahan strategi, atau perubahan ketersediaan sumber daya.

**

Secara eksternal, bisa saja terjadi perubahan peta kompetisi, perubahan regulasi, perubahan peta geopolitik, dan lain-lain. Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan besar bangkrut, seperti Hertz, NPC (franchise Pizza Hut), CMX Cinemas, Rubie’s Costume, Brooks Brothers, J.Crew, J.C.Penny, Gold’s Gym, Chesepeake Energy, dan lain-lain.

Contoh yang nyata terjadi di JC Penney. Dulunya, JC Penney sangat populer di Amerika. Kemudian, Ron Johnson mengambil alih kepemimpinan, dengan janji menjadikan JC Penney sebagai “toko favorit di Amerika.” Tanpa menguji reaksi pembeli terlebih dahulu, JC Penney mengubah iklan, logo, desain toko, dan model harga. Semua ini adalah upaya untuk membuat pengecer tersebut lebih disukai pembeli yang lebih kaya. JC Penney menyingkirkan merek-merek private label teratas dengan pengikut setia dan memperkenalkan merek-merek baru yang kurang relevan bagi pelanggan berpenghasilan rendah dan menengah. JC Penney meninggalkan pelanggan lama dan berasumsi bahwa pelanggan baru akan muncul secara tiba-tiba. Kesalahan terbesar adalah mengakhiri kupon/voucher dan penjualan obral yang menjadi bumerang, membuat mereka ditinggalkan pembeli dan akhirnya bangkrut.

**

Pelajarannya apa? Kenali pelanggan, penuhi keinginan pelanggan, dan manjakan pelanggan, dalam situasi apapun. Jangan ulangi contoh JC Penney di atas. Jawabannya? Transformasi!

Berdasarkan observasi dan pengalaman saya, sebenarnya sebuah transformasi yang akhirnya berjalan dengan baik, dilakukan dengan menjalankan empat aspek di bawah ini:

1. STARTS WITH WHY

Transformasi ke depan hanya bisa dilaksanakan kalau kita memperkuat fondasi sebuah organisasi, yang sudah terbukti menjadi landasan kuat yang membuatnya berjaya di masa lalu. Banyak perusahaan melakukan kesalahan dengan mencoba bertransformasi dan mengubah semuanya, bahkan

menghentikan sesuatu yang sebelumnya sudah bagus dan menjadi kekuatan mereka.

Maka, jika sebuah perusahaan dulunya hebat karena pelayanan, kejujuran, dan kepedulian, hal-hal tersebut harus terus dilakukan, diperkuat, dan diperbaiki terus-menerus.

**

2. ENGAGE EVERYBODY

Ajaklah semua orang, semua pemimpin, dan semua karyawan untuk berpartisipasi di dalam transformasi tersebut. Tidak mungkin sebuah transformasi hanya dilakukan oleh direksi atau para pemimpin. Transformasi harus dijalankan oleh semua orang dari level yang paling atas sampai level yang paling bawah, karena pelanggan akan menilai sebuah perusahaan dari hubungan nyata yang mereka rasakan dari pengalaman berinteraksi dengan perusahaan tersebut. Kadang-kadang interaksi tersebut tidak

terjalin setiap hari dengan direksi atau pimpinannya, tetapi interaksi pelanggan dapat terjadi dengan karyawan, bagian pelayanan pelanggan, dan bagian penjualan.

**

3. DELIVER TODAY’S OBJECTIVE

Transformasi ke depan bukan berarti kita melupakan kinerja atau target hari ini. Namun, apapun yang dilakukan ke depan, kita tetap harus memperhatikan bahwa semua target hari ini dapat tercapai. Ingat, kita sudah menjanjikan kepada para pemangku kepentingan untuk mencapai target pada tahun ini, pada semester ini, pada kuartal ini, dan bahkan pada bulan ini, dan itu sangat penting untuk dicapai. Jangan

sampai kita merusak kepercayaan para pelanggan, pemangku kepentingan, atau pemegang saham dengan tidak mencapai target tersebut. Hal itu bisa membahayakan kredibilitas kita untuk membangun masa depan yang lebih baik.

**

4. BUILD THE FUTURE TOGETHER

Bagaimana kita membangun masa depan bersama dengan menjalankan inovasi-inovasi tersebut. Kunci keberhasilannya ada dua, yaitu memperkuat fondasi bisnis (pelayanan pelanggan, keramahan, dan kejujuran) dan membangun aplikasi yang membuat pelanggan lebih mudah memesan. Apapun yang terjadi, semua organisasi perlu membangun masa depan denganberinovasi. Banyak yang ragu-ragu berinovasi, karena takut akan gagal atau tidak mendapatkan keuntungan. Padahal, memang banyak inovasi yang akan terlebih dahulu gagal pada awalnya, dipelajari dan diperbaiki terus-menerus.

Dream big,start small, and act now!

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto


WHAT CAN DIFFERENTIATE YOU FROM OTHERS?

 

Saat saya sedang sharing tentang “Crafting the vision of your career” di Universitas Indonesia, ada seorang mahasiswi (sebut saja namanya Clarissa) yang bertanya, ”Pak Pambudi, terima kasih untuk sharingnya yang sangat menginspirasi. Saya sebenarnya juga dari dulu melakukan hal yang sama. Saya punya rencana, saya banyak bekerja keras dan belajar. Tetapi entah kenapa teman-teman saya kok banyak yang meledek saya. Mereka bilang, santai saja menghadapi hidup, jalani seperti air yang mengalir. Mengapa demikian ya Pak? Terus , saya harus bagaimana menghadapi ledekan mereka.”

**

Wah pertanyaan Clarissa sangat mengena dan relevant. Jawaban bagi Clarissa adalah,”Kan memang jauh lebih sedikit jumlah orang yang sukses dibandingkan dengan yang average. Jadi memang Sebagian besar orang akan bertanya-tanya mengapa kita harus bekerja keras. Bukankah kita harus menikmati hidup, enjoy, healing, bahkan ada yang mengajarkan kita pasrah dan menerima apapun yang kita punya. Tapi jaman makin sulit, dan kaum average akan kesulitan di masa depan.”

Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya membaca tentang teori yang bernama “2% mindset”. 

Di Amerika Serikat Dr. Myron Rolle menyampaikan bahwa  ternyata memang hanya 2 percent dari populasi yang mempunyai growth mindset, mereka yang selalu punya adrenaline untuk melakukan yang terbaik, meskipun itu harus dijalani dengan susah payah. Berarti normal kan, kalau seandainya Clarissa termasuk yang 2 percent dan mungkin saja ada 98% yang merasa aneh dan akan meledeknya?

**

Dr. Myron Rolle percaya bahwa siapa pun dapat menggunakan konsep 2% mindset ini untuk menjadi lebih baik atau bekerja keras mencapai objective yang kita inginkan. 

"Dengan konsep ini, kita bisa memiliki kesuksesan kecil setiap hari, dan kemudian sebulan lagi, sekarang, dua bulan lagi, setahun lagi, kita bisa berkata, lihat betapa jauh lebih baik apa yang kita dapatkan ini, dan lihat berapa banyak lagi kita bisa capai , asalkan kita berusaha dan mendapatkan pencapaian kecil, setiap hari"

**

Jadi pesan saya buat Clarissa, dan teman-temannya ...

Memang di dunia ini tidak semua mempunyai growth mindset (pemikiran untuk terus berkembang). Jadi jangan khawatir kalau menjadi minority (yang diledek). Karena suatu saat nanti, setelah lulus nanti, juga tidak semuanya akan berhasil dalam karier dan kehidupan mereka. Hanya yang mempunyai growth mindset yang akan terus berkembang dan berhasil. Dan itu ternyata hanya 2% dari populasi.

**

Mayoritas dari populasi biasanya hanyalah: Play save (bermain aman), mencari solusi yang aman, mudah dan tidak beresiko, Want to be liked by everyone (hanya menginginkan untuk disukai orang lain, padahal yang disukai banyak orang juga belum tentu berhasil), Procrastinate (menunda-nunda untuk bekerja melakukan perbaikan), Fear (ketakutan untuk keluar dari zona nyaman), Tidak menyukai perubahan (Padahal perubahan itu perlu untuk terus berkembang dan maju, meskipun pada awalnya perubahan itu susah dilakukan)

**

Terus, bagaimana karakter dari 2 persen populasi yang mempunyai growth mindset itu?

a) Going for your dreams 

Mereka ini sejak kecil mempunyai cita-cita yang tinggi dan mimpi yang besar. Karena tinggi-nya cita-cita mereka, banyak yang kadang meledek mereka. Bahkan ada yang mengolok-olok,”Mimpi kali yeee.” Biasanya hal ini tidak mengecilkan hati mereka, dan biasanya mereka tetap akan bekerja keras untuk mencapai cita-cita mereka.

**

b) Confidence

2% populasi ini biasanya mempunyai rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi. Di jaman digital ini kita memerlukan talenta yang mempunyai competence, confidence dan communication skills. Harus seimbang di antara ketiga hal itu.

**

c) Like the change

Mereka yang mempunyai growth mindset, mereka menyukai perubahan. Mereka mengerti, ada dua kata yang tidak bisa berjalan bersama, nyaman atau maju. Kalau mereka mau nyaman, ya berarti tidak akan maju. Kalau mereka mau maju, ya harus bersiap-siap, hidupnya tidak akan nyaman. 

**  

d) Embracing the unknown

Bekerja keras, untuk mencapai masa depan yang lebih baik, itu juga beresiko, dan belum tentu berhasil. Kadang gagal, kadang malu, kadang pedih. Apalagi di jaman yang penuh ketidakpastian ini. Mereka yang punya growth mindset, akan menyukai ketidakpastian, suka mengambil resiko, dan mengerti bahwa mereka bisa gagal, tetapi akan terus bangkit dari kegagalan, mencoba dan mencoba lagi, sampai akhirnya benar benar mencapai tujuannya.

**

e) Act in spite of fear

Bagi Sebagian besar orang, FEAR adalah (Fear of Everything AND Run, takut menghadapi semua resiko dan lari), padahal seharusnya FEAR itu Face Everything AND Rise, keberanian menghadapi resiko dan ketidakpastian dan bangkit. Mereka terus mencoba sampai berhasil.

**

Pertanyaannya, apakah anda termasuk 98% mayoritas? Atau termasuk 2% populasi yang mempunyai growth mindset itu?

Jawaban dan pilihannya nya ada di tangan anda sendiri.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto


SHOULD WE KEEP OR FIRE THE BEST PERFORMER WITH TOXIC BEHAVIOR?

 

(Apakah kita harus mempertahankan atau memecat karyawan dengan kinerja terbaik tetapi mempunyai kelakuan yang toxic?)

**

Hari Minggu sore, saya diminta sharing session di sebuah perusahaan distribusi farmasi dan alat-alat kedokteran. Saya kagum dengan semangat mereka untuk belajar pada hari Minggu yang mestinya mereka beristirahat bersama keluarga.

Saya sharing tentang peran seorang Leader dalam memimpin bisnis, mempimpin teamnya dan memimpin dirinya sendiri. Kemudian saya menjelaskan hubungan yang kuat antara motivasi karyawan, kepuasan pelanggan dan keuntungan perusahaan untuk jangka panjang.

Saat coffe break, datanglah Pak Tomi ( Sales Director), meminta bertemu pertanyaan secara private. Dia bercerita bahwa dia mempunya 6 regional sales manager. Di antara 6 orang manager tersebut, ada 1 orang yang menghasilkan 45 persen profit perusahaan. He is an excellent performer. Sayangnya, kelakuannya sangat toxic. Tiga orang di team nya sudah resign, perusahaan kerepotan mencari pengganti, dan sekarang sudah ada 4 orang yang mengancam mau resign, kalau dia tidak dikeluarkan.

Sales Director itu dengan putus asa, bertanya ke saya,”Pak Pam, Apakah kita harus mempertahankan atau memecat karyawan dengan kinerja terbaik tetapi mempunyai kelakuan yang toxic?”

**

Wah pertanyaan yang sangat menarik. Saya yakin beberapa pembaca tulisan ini, akan menjawab, bahwa kita harus memecat atau mengeluarkan karyawan itu. Kinerja excellent nggak bisa jadi “tameng” buat perilaku toxic. Biaya toxic employee lebih mahal dari revenue yang dia hasilkan, Riset Harvard: 1 karyawan toxic bikin perusahaan rugi ∼$12,000/tahun karena turnover, absensi, dan produktivitas tim turun. Buat apa kita kehilangan 3 orang buat menahan 1 orang.

Sabaaaaar…. Sabar … tunggu dulu. Ternyata kita sebaiknya jangan langsung memilih antara “pecat” atau “pertahankan” — tapi perlakukan ini sebagai masalah bisnis serius yang harus ditangani tegas dan cepat. This is a real test of leadership.

**

Sambil ngobrol dulu saya bertanya,”Pak , seandainya saja bapak adalah pemilik perusahaan. Apa harapan anda pada perusahaan tersebut?"

"Agar perusahaan berkembang, dan profit nya naik setiap tahun."

Nah kan?!!!

Di sinilah pentingnya profit, revenue, dan pertumbuhan bisnis (growth). Di situ focusnya.

Jangan mengkompromikannya.

Semua berperan untuk menjaga hal ini, meningkatkan kinerja bisnis (profitability), dan meningkatkan atmosphere positif di organisasi.


**

Kasus di atas adalah kasus nyata. Banyak sekali excellent performer yang ternyata behavior-nya jelek. Apa yang perlu anda lakukan? Mari kita bedah dengan jernih:

Ini bukan sekadar isu perilaku — ini sudah jadi risiko bisnis. Membiarkan seseorang yang toxic secara jangka panjang akan merugikan bisnis. Tapi jangan langsung pecat — lakukan proses terstruktur.

Lihat, regional Sales manager yang bermasalah tadi berkontribusi pada 45% keuntungan perusahaan, berarti produktifitas nya dia 3 kali lipat dibandingkan yang lain (di sisi lain. Kita juga bisa mempertanyakan, Mengapa perusahaan tidak mempertimbangkan untuk memecat yang lain yang behaviornya bagus tapi kinerjanya hancur?).

Siapkah perusahaan kehilangan 45% profit?

Sebuah bisnis dijalankan untuk menghasilkan profit, dengan menjaga suasana kerja yang positif. Tapi dua-duanya harus jalan. Tidak boleh suasana kerjanya positif, tapi profitnya merosot! Nanti bayar karyawan lainnya pakai apa? Harus dijaga dua-duanya!

**

Terus apa yang perlu dilakukan?

a) Training dan coaching , satu atau dua karyawan internal terbaik untuk menggantikan si “bad-behavior” dalam 1-2 tahun lagi

**

b) Recruit, 2 orang external, dengan kinerja yang bagus, dan behavior yang bagus, berikan waktu selama 1 tahun untuk berkembang di organisasi agar mampu beradaptasi dan berkinerja maximal. Dengan Langkah a) dan b) sebuah organisasi sedang mempersiapkan “organizational capability” bukan hanya “individual competence”

**

c) Coaching karyawan anda yang Top Star secara kinerja, tapi behaviornya toxic, sampaikan ekspektasi dengan jelas, bahwa kita perlu menjaga dua hal: kinerja dan behavior. Beri kesempatan untuk berubah (Performance Improvement Plan khusus perilaku). Fokus bukan hanya skill, tapi attitude & collaboration. Buat target yang terukur: dengan feedback dari rekan kerja.

**

d) Saat alternative a) atau b) (sesuai rekomendasi di atas), sudah ready. Artinya mereka sudah siap menggantikan si "bae-behavior" (dalam menghasilkan kinerja yang sama, secara individu atau kolektif, lakukan evaluasi pada karyawan yang tadinya behaviornya jelek. Jika karyawan toxic tidak berubah → lepaskan tanpa ragu. Keputusan rasional adalah: keluarkan. Kenapa? Anda sedang melindungi organisasi, bukan individu. Memberi toleransi = memberi sinyal: “Toxic behavior is acceptable if you perform”. Itu sangat berbahaya.

Tapi ingat, Langkah e) bisa dijalankan tanpa mengkompromikan kinerja organisasi secara keseluruhan. Jangan buru-buru. Jangan sampai kehilangan 45% profit. Siapkan semua alternative. Itulah pentingnya mengembangkan talent dan succession plan, agar organisasi tidak tergantung pada beberapa orang saja.

**

Kasus di atas adalah sebuah test of leadership. Masalah culture (budaya kerja) bukan hanya urusan HR, tetapi juga ownership ada di business leader. Semua berperan untuk menjaga hal ini, meningkatkan kinerja bisnis, dan meningkatkan atmosphere positif di organisasi.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto


THINK DIFFERENTLY! (LEARNING from MICHELIN)


Bram, seorang teman saya curhat,” Pam, kayaknya bisnis yang sedang saya jalankan ini sulit berkembang. Sudah 9 bulan, tapi seperti jalan di tempat.  Mungkin sebaiknya saya ganti bisnis atau bahkan melamar pekerjaan di perusahaan ya??”

Lho? Kok begitu?

Dan ternyata begitu banyak di antara kita yang berpikiran seperti itu. Kalau pesimis bahwa goal kita akan tercapai, mestinya bekerja, belajarnya dan bereksperimen yang harus lebih keras lagi.

Dengan cara pikir dan strategy yang seperti ini pantas saja kalau banyak yang tidak mencapai hasil yang diinginkan .

- Kalau bisnis kita gak jalan, sebaiknya ganti bisnis saja

- kalau product kita gak laku, ya harganya harus diturunkan.

- Kalau karyawan kita keluar , ya berarti gajinya harus dinaikkan

- Kalau customer complain berarti jumlah Customer service nya harus ditambah

Really? Apakah itu benar benar cara efektif menyelesaikan masalah?

Wah sepertinya pola pikirnya kok beda! Think again.

Kalau bisnis gak jalan, dan ternyata langsung ganti bisnis, lha iya kalau habis itu jalan, jangan-jangan masalahnya ada di pola pikir kita.

Kalau product gak laku harga diturunkan, terus apa yang Kita akan lakukan kalau ada competitor lain dengan harga yang lebih murah lagi?

Kalau karyawan resign terus gajinya dinaikkan, apa yang Kita lakukan kalau enam bulan kemudian dia mendapatkan job offer lain? Nah,, repot lagi kan?

**

Mari kita belajar dari Michelin!

Mereka tahu cara berfikir dengan cara yang berbeda.

Michelin adalah salah satu pabrik pembuat ban mobil di Perancis. Tapi sayangnya dulu, terdapat kurang dari 3.000 mobil di jalanan Prancis. Dan mobil yang hanya sedikit pula, maka ban mobil jarang sekali aus (wear out). Dan volume penjualan ban pun sangat sedikit. Pendapatan perusahaan pun kecil.

Mungkin kalau Bram menjadi pemilik Michelin akan langsung menutup pabrik ban, dan mengganti dengan bisnis lain. Tapi mereka berpikir lain. Mereka berusaha membuat para pengendara mobil keliling Eropa untuk makan di restaurant restaurant yang bagus di negara-negara lain.

Édouard dan André Michelin menerbitkan panduan untuk pengendara mobil Prancis, Guide Michelin. Hampir 35.000 eksemplar edisi pertama yang gratis ini didistribusikan. Panduan ini memberikan informasi kepada pengendara mobil seperti peta, lokasi restaurant-restauran yang bagus,  petunjuk perbaikan dan penggantian ban, daftar bengkel mobil, hotel, dan SPBU di seluruh Prancis.. Mereka berpikir buku Panduan ini dapat mendorong pemilik mobil untuk lebih sering mengemudi, yang akan meningkatkan keausan ban dan pada gilirannya meningkatkan penjualan penggantian ban.

Ide yang original! Tetapi ternyata mereka mencapai goal-nya.

**

Bagaimana kalau kita tidak hanya berpikir yang simple-simple saja? Bagaimana kalau kita lebih open mind, menggunakan otak kita untuk mencari solusi yang lebih tepat, sebelum menyerah.

You need to think differently. You need to think beyond the obvious. Kita harus memikirkan minimal belasan alternative sebelum Kita memutuskan langkah yang akan Kita jalankan!

How to do i?


*BEGIN with the END in yourMIND*

Mulailah berfikir dari tujuan akhir yang Kita ingin capai, dan  kemudian cari solusinya, berfikirlah backward .... Terobsesilah dengan tujuan akhir yang akan dicapai, setelah itu baru cari cara menjalankannya, step by step!

**

 *GENERATE ALTENATIVES*

Pikirkan dulu belasan alternative, cara-cara lain untuk menyelesaikan masalah. Jangan sampai kepikir satu cara langsung diterapkan!

Seorang pemain catur menganalisa dan mempertimbangkan 4 alternatif langkah sebelum memutuskan. Lakukan hal yang sama.

**

 *DRAW YOUR PROBLEM*

Saya belajar dari Leonardo Da Vinci untuk selalu menggunakan buku gambar A3 dan selalu menggambarkan permasalahan saya dengan segal detailnya dan dari beberapa perspective yang berbeda sebelum memikirkan solusinya.

**

*USE METAPHORES*

Belajarlah untuk menghubungkan segala macam aspek, meskipun kadang kelihatannya gak ada hubungannya.  

Seorang insinyur menggabungkan teknik membangun fondasi dengan binatang-binatang di rumah. Dan dia melahirkan design “cakar ayam” untuk membangun jalan layang.

Archimedes membandingkan sebuah teori fisika dengan batangan sabun di kamar mandinya.

Pikirkan segala perspective dan angle permasalahan Kita dan connect the dots.

*BE PRODUCTIVE*

Pikirkan banyak solusi, bikin banyak gambar, bikin alat peraga. Gak ap apa jelek atau gagal. Kee trying. Kee working. Keep learning. Just produce... produce ... produce!

**


Salam Hangat 

Pambudi Sunarsihanto


WHY A HIGHLY PROFITABLE COMPANY IMPLEMENT LAY-OFF?

Mengapa sebuah perusahaan yang untungnya besar, melakukan PHK?

Malam itu Jakarta lagi hujan. Saya ber janjian makan malam di The Bridge, sebuah restoran di area SCBD, dengan Farah. . Dia bekerja di sebuah perusahaan Eropa yang menjadi market leader dalam bidangnya. Seetelah berbasa-basi Farah pun mulai curhat. (Yes, usually the women who came to me, come with all their troubles 😊 ).

“Mas, perusahaan di mana aku bekerja itu tahun 2025 yang lalu untung besar. 10 billion EUR. Tapi mas, ternyata perusahaanku akan melakukan PHK cukup besar. Bahkan akan menjual divisi “makanan” ke perusahaan lain.

Apa yang terjadi mas? Dulu kan kalau perusahaan rugi atau bangkrut yang melakukan PHK. Tetapi mengapa perusahaan di mana aku bekerja, yang untung besar tetap saja melakukan PHK. Dan bahkan menjual satu divisi ke perusahaan lain? Apakah krisis yang di depan mat akita memang seburuk itu?”

**

Semua mungkin saja terjadi!

Kita berada dalam era yang sangat tidak pasti. 

Dalam bisnis banyak raksasa yang telah tumbang.

Sebuah perusahaan yang tidak tedengar tiga tahun lalu, bisa saja saat ini sukses luar biasa dan merajai market. Tapi sebaliknya, perusahaan yang puluhan tahun berjaya, bisa saja bangkrut dalam sekejap.

**

Krisis melanda dunia saat ini. Perang sedang terjadi, seluruh dunia sedang khawatir. Perusahaan-perusahaan sedang berhati-hati, menjaga cash flow, tidak berani berinvestasi. 

Dan kita hanya menunggu waktu, sebelum effect domino akan terjadi dan melanda di mana-mana. Semua perusahaan berhati-hati.

Mengapa sebuah perusahaan yang untung besar perlu melakukan PHK?

Keuntungan besar kan terjadi tahun 2025. Tahun 2026 harus hati-hati. Harus melihat semua elemen biaya. Harus memotong semua biaya yang bisa dipotong untuk meningkatkan efisiensi dan productifitas. Dan biaya ketenagakerjaan termasuk salah satu yang pasti dievaluasi (Ini terjadi di semua perusahaan global!)

**

Mengapa di perusahaan yang untung besar, sebuah divisi bisa dijual. Karena mereka perlu focus pada perusahaan yang pertumbuhan dan keuntungannya paling besar.

Nokia menjual divisi Mobile Phone (mereka tidak tutup, tetapi mereka mempertahankan divisi Network yang masih sangat profitable sampai sekarang). 

Citibank menjual divisi Consumer Business di Indonesia (mereka tidak tutup, tetapi mereka mempertahankan divisi Corporate Banking yang masih sangat profitable sampai sekarang).

Kompetisi bukan hanya terjadi di luar, tapi terjadi di dalam. Kalau sebuah divisi keuntungannya tidak sebesar divisi lain, ya harus diperbaiki atau ditutup.

Di perusahaan di mana Farah bekerja, ternyata divisi Beauty, Personal care, serta Health & wellness, menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi!

**

Intinya apa? Semua tetap waspada! Semua tetap beresiko dalam situasi saat ini.


Dalam suasana bisnis saat ini, leader harus membangun budaya akuntabilitas. Akuntabilitas berarti bahwa individu harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka dan menerima tanggung jawab untuk mereka, apa pun hasilnya, serta mengoreksi tindakan tersebut bila perlu.  Akuntabilitas dapat menghindarkan kita dari hal-hal negatif, tetapi juga bisa mendorang hal-hal yang positif — misalnya, untuk memberikan apresiasikepada rekan kerja yang melakukan pekerjaan dengan baik. 

Jadi membangun budaya akuntabilitas sangat penting untuk organisasi yang transparan dan etis. Tanggung jawab bersama untuk akuntabilitas di semua level — mulai dari CEO hingga karyawan yang baru join — akan menghasilkan semangat kerja yang lebih tinggi dan kinerja yang lebih efektif, dan akan membangun kesuksesan organisasi yang konsisten.

**

Terus, bagaimana membangun budaya accountability ini?

Andrew Robertson dari Gallup merekomendasikan beberapa hal yang bisa dijalankan. 

a) *Define what people are accountable for*

Karyawan perlu mengetahui, ekpektasi manajemen terhadap tujuan yang perlu mereka capai. Atasan juga perlu menunjukkan akuntabilitas melalui availability mereka sendiri dan waktu yang dihabiskan bersama team untuk mendiskusikan, mengkomunikasikan, mendapatkan feedback dan memberikan update progress, serta menyampaikan apresiasi terhadap tanggung jawab seluruh tim dan pencapiannya.

**

b) *Set and cascade goals throughout the organization*

Setelah karyawan memahami dengan jelas apa yang menjadi tanggung jawab mereka, atasan harus membantu mereka menetapkan tujuan individual yang terukur dan selaras dengan peran masing-masing. Karyawan harus menetapkan metrik (pengukuran) yang akan membantu mereka mengetahui apakah mereka mencapai tujuan yang diharapkan organisasi.

**

c) *Provide updates on progress*

Talent-talent kita membutuhkan informasi untuk mengerti apakah yang mereka lakukan sudah berada di jalur yang benar. Feedback dapat berasal dari survei pelanggan atau karyawan, pembaruan proyek yang sedang berlangsung, feedback dari social media atau sumber lain atau beberapa kombinasi dari semua hal tersebut. 

Feedback yang yang paling efektif seringkali berasal dari percakapan jujur yang sering terjadi antara atasan dan karyawan.

**

d) *Align development, learning and growth*

Organisasi harus memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berlatih, belajar, dan berkembang. Analitik dari Gallup menunjukkan bahwa karyawan-karyawan yang lebih muda sangat mementingkan ”opportunity to grow and learn” sebagai faktor pekerjaan yang pentingnya No. 1 -- di atas semua aspek pekerjaan lainnya -- .

Bagi generasi leain, peringkat dari aspek learning and grow ini juga sangat penting.

Atasan yang fokus pada pengembangan karyawan akan sangat membantu pekerja agar mampu menjalankan tugasnya dan menghindarkan perusahaan dari resiko-resiko bisnis di masa depan.

**

e) *Recognize and celebrate progress*

Identifikasi hal-hal positive yang terjadi dan apresiasi karyawan langsung saat itu juga.

Ini akan memotivasi karyawan untuk semakin bertanggung jawab dalam tugasnya, terus melakukan yang terbaik, dan akan ditiru oleh karyawan-karyawan lain.

**

Salam Hangat


Pambudi Sunarsihanto